MEMISAHKAN KEUANGAN PRIBADI DAN USAHA

Oleh: Ahmad Gozali

(www.perencanakeuang an.com)

 

Dikutip dari Harian Republika, November 2007

Assalamualaikum wr wb

Pak Gozali Yth,

Nama saya Arief. Saya seorang pengusaha di bidang handycraft dan aksesori. Umur saya masih tergolong muda, 21 tahun, dan masih lajang. Saya punya beberapa masalah di bidang keuangan. Pertama, modal saya pas-pasan dan terlalu banyak pengeluaran.

Penghasilan saya dalam satu bulan kira-kira Rp 45 juta. Dan setelah dihitung-hitung, saya hanya bisa menabung Rp 15 juta dari penghasilan itu dikarenakan saya harus membayar para perajin, ditambah kebutuhan yang lain. Pak Gozali, tolong beri saya solusi, apakah saya harus menahan sebagian uang perajin untuk saya putar kembali dengan beberapa risiko atau saya mesti bagaimana? Terima kasih.

Arief, Bali

Jawaban: Waalaikumussalam wr wb,

Mas Arief, salut untuk Anda. Seorang pengusaha yang masih muda usia, tapi sudah cukup sukses ya. Wah, sepertinya ada satu hal yang harus Anda lakukan Mas Arief, yaitu memisahkan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha Anda. Karena kalau tidak dipisahkan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha Anda, akan sulit untuk bisa membenahi masalah keuangannya.

Misalnya saja, Anda katakan bahwa banyak pengeluaran yang harus dilakukan. Nah, ini maksudnya pengeluaran untuk usaha atau pengeluaran pribadi? Kalau pengeluaran usaha, tentunya wajar saja kalau banyak pengeluaran. Apalagi kalau digunakan untuk kepentingan pembayaran supplier, bahan baku, dan tenaga kerja.

Nah, berkaitan dengan pertanyaan Anda selanjutnya. Saya rasa akan kurang bijaksana kalau harus menahan pembayaran kepada para perajin. Karena secara etika bisnis Islami, kita diminta untuk membayar upah sesegera mungkin, bahkan sebelum keringat mereka kering. Dan secara bisnis, hal ini juga membuat perajin Anda menjadi kurang loyal atau kurang memerhatikan aspek kualitas karena bekerja dalam suasana yang kurang kondusif.

Tapi, kalau yang Anda maksud adalah banyaknya pengeluaran pribadi, maka Anda perlu mengevaluasi lagi daftar pengeluaran Anda. Mumpung masih bujangan dan belum banyak kebutuhan, sebetulnya upaya penghematan bisa lebih mudah dilakukan. Kalau Anda termasuk yang ‘susah menabung’ sendiri, coba ikut program menabung otomatis seperti dengan arisan, tabungan berjangka, asuransi investasi, atau unit link, sehingga Anda akan ‘dipaksa’ untuk menabung. Biasanya sih, karena memegang uang dalam jumlah besar (walaupun itu uang usaha) membuat kita menjadi lebih boros juga, makanya saya sangat sarankan untuk memisahkan antara uang usaha dan uang pribadi.

Kalaupun tidak investasi ke dalam produk keuangan, Anda bisa investasi ke dalam harta tetap seperti rumah, kios atau ruko. Dengan investasi pada rumah, apalagi di pulau Bali yang harganya cukup tinggi, Anda bisa investasi sekaligus bisa dijadikan sebagai tempat tinggal nantinya. Atau dengan memiliki kios atau ruko, bisa disewakan atau digunakan sebagai lokasi usaha Anda.

Begitu juga dengan tabungan. Kalau yang Anda maksud menabung Rp 15 juta per bulan itu adalah sisa hasil usaha alias keuntungan bersih, bisa dikatakan cukup besar bisa mengantongi sepertiga dari pendapatan kotor usaha. Tapi kalau Rp 15 juta atau sepertiga itu adalah selisih dari penghasilan dan pengeluaran pribadi, sepertinya masih cukup kecil. Karena biasanya, seorang bujangan itu bisa mengumpulkan sampai 40 persen bahkan lebih dari penghasilannya.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: