Mengevaluasi Kinerja Reksadana

Oleh SULAEMAN RAHMAN SAAT ini, rupiah mulai tenang, meski sempat mencapai angka yang tidak diinginkan sebagian besar masyarakat. Ketika rupiah melemah, para investor tidak bisa tidur karena gejolak rupiah mengintip kinerja portfolio investasi yang mereka lakukan. Terutama yang menaruh uangnya di reksadana. Pertanyaan mereka, apakah investasi di reksadana masih dianggap menguntungkan, ataukah sekarang saatnya keluar dari reksadana dan beralih kepada pilihan investasi bentuk lain. Pilihan ini sangat bergantung pada persepsi, preferensi, dan juga ekspekstasi para investor terhadap pasar dan jenis investasi.

reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi yang mendapat izin Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Portofolio investasi dari reksadana dapat terdiri dari berbagai instrumen surat berharga seperti saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau campuran dari instrumen-instrumen tersebut. Pilihan reksadana diambil karena umumnya pemodal mengalami kesulitan untuk melakukan investasi sendiri pada surat-surat berharga tadi.

Kesulitan yang dihadapi investor, antara lain perlunya melakukan berbagai analisis dan memonitor kondisi pasar terus menerus yang sangat menyita waktu. Kesulitan lain, butuh dana relatif besar untuk dapat melakukan investasi secara individu. Beberapa kemudahan yang diperoleh investor melalui reksadana adalah diversifikasi investasi, hasil investasi bukan objek pajak, dana investasi yang dibutuhkan kecil, dan investor bisa investasi dengan dana mulai dari Rp 200.000,00.

Manfaat tersebut adalah manfaat yang dinikmati investor individu. Ada juga manfaat yang diterima investor institusi seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, bank, yang memperoleh kemudahan melalui diversifikasi investasi yang dilakukan manajer investasi. Manfaat lainnya akan diterima emiten, dan juga pemerintah sebagai pihak yang membutuhkan dana. Dengan adanya reksadana, sumber dana investasi dapat menjangkau investor individu secara luas, sehingga dapat terkumpul dana lebih besar.

Secara umum reksadana terbagi dua, reksadana berbentuk perseroan terbatas (PT reksadana) dan reksadana berbentuk kontrak investasi kolektif (reksadana KIK). Bila dilihat dalam hal mekanisme transaksi jual beli saham/unit penyertaan oleh investor, terdapat reksadana terbuka (jual beli unit penyertaan reksadana dilakukan manajer investasi dengan investor tanpa melalui bursa) dan reksadana tertutup (jual beli dilakukan melalui bursa antara investor dengan investor lainnya).

Masih banyak investor yang kurang mengerti seluk beluk investasi di reksadana. Hal ini dikeluhkan manajer investasi dan bank kustodion sehingga ada penurunan kinerja pada jenis reksadana dianggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Padahal, dalam membuat keputusan investasi masih akan menyangkut pada dua hal yaitu risk dan return atau risiko dan tingkat pengembalian.

Diberitakan PR (10/9) terjadi penarikan besar-besaran terhadap reksadana di berbagai perusahaan manajemen investasi. Ada bank yang awalnya mengelola Rp 9,04 triliun, namun pada akhir Agustus 2005 dana yang dikelolanya menjadi Rp 4,903 triliun.

Berdasarkan kasus yang dialami bank (manajer investasi) tadi, ternyata pemilik reksadana tersebut hanya 10-15% dimiliki korporat atau institusi, sedangkan sisanya investor individu atau ritel. Hal ini menunjukkan bahwa harus ada usaha memberikan pemahaman kepada investor individu bagaimana menilai kinerja suatu reksadana sehingga mereka menyadari dan mengetahui kapan harus melakukan penarikan dan kapan mereka harus melakukan penyertaan, dan keputusan yang dibuat bukan ikut-ikutan.

Menilai kinerja

Berdasarkan survei di Amerika Serikat, 70% responden memilih reksadana karena kinerja yang dihasilkan. Hal itu dapat menjadi perhatian manajer investasi untuk memberikan informasi yang benar kepada para investor mengenai kinerja yang dihasilkan. .

Sumber informasi utama dalam pengukuran kinerja reksadana adalah NAB (nilai aktiva bersih) yang publikasinya bisa dalam 30 hari terakhir dan bisa pula dalam setahun terakhir. Kinerja NAB sebaiknya dilaporkan berdasarkan perubahan NAB/unit bukan berdasarkan perubahan NAB-nya saja.

Naiknya NAB/unit yang dimiliki reksadana dolar memang wajar disebabkan adanya laba kurs dolar-rupiah. Nilai NAB sangat dipengaruhi faktor eksternal, misalnya, nilai tukar. Ada kemungkinan redemption (penarikan atau pencairan) terjadi pada reksadana jenis ini sehingga nilai reksadana yang terkumpul pada Februari 2005 senilai Rp 110,8 triliun turun menjadi kurang lebih Rp 73,9 triliun per Agustus 2005.

Pengukuran kinerja lainnya dengan melihat risiko yang secara teori dapat diukur dengan beberapa metode seperti Metode Sharpe, Treynor dan Jensen. Para investor tidak usah terlalu repot mempelajari metode tersebut, tapi dapat menanyakan kepada manajer investasi. Metode sederhana yang berbasis pada risiko untuk pengukurun kinerja dapat dihitung dengan cara lain, misalnya, membuat rasio antara return dengan risk atau dikenal dengan 3R (return – risk ratio) – sumber Bagian Riset Kontan. Contoh, bila reksadana jenis pendapatan “AAA” mempunyai return atau tingkat pengembalian 0,912 pada bulan lalu dan risk-nya diukur dengan besarnya standar deviasi 0,028, maka besaran 3R-nya adalah 32,187.

Hasil metode, akhirnya, dapat dibandingkan satu dengan lainnya sehingga dapat diperoleh ranking dan investor dapat memutuskan reksadana yang mana yang akan dibeli. Tetapi, membandingkan hal tersebut harus memperhatikan periode pengukuran yang sama, membandingkan reksadana yang sejenis, mengikutsertakan faktor risiko, penentuan kriteria benchmark, perhitungan dengan formulasi yang benar dan seragam, dan alternatif formulasi untuk perbandingan kinerja dengan waktu yang berbeda.

Membandingkan kinerja

reksadana adalah wadah sekaligus wahana atau kendaraan investasi bagi masyarakat yang ingin berinvestasi seperti saham, obligasi, dan juga berinvestasi ke dalam portfolio. Jenis investasi pada reksadana bermacam-macam seperti reksadana saham, reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, dan reksadana campuran.

Saat ini kinerja reksadana yang memiliki kinerja kurang bagus dengan adanya gejolak rupiah adalah reksadana pendapatan tetap dengan basis rupiah. Sebab, sejak awal tahun 2005, BI telah mulai menaikkan suku bunga SBI. Apalagi sekarang dengan adanya gempuran melemahnya nilai tukar rupiah sehingga harga-harga obligasi yang menjadi lahan investasi utama reksadana berpendapatan tetap langsung turun. Akibatnya berimbas pada nilai NAB pada reksadana berpendapatan tetap.

Berdasarkan nilai NAB yang makin turun, timbul kekhawatiran dari investor sehingga melakukan redemption. Misalnya dalam catatan nilai investasi reksadana berpendapatan tetap pada Februari 2005 pernah tercatat Rp 86,4 triliun dan pada Agustus 2005 menjadi Rp 47,9 triliun, berarti terjadi redemption yang cukup besar.

Bila dibandingkan dengan kinerja reksadana lain, ada pilihan bagi investor yaitu dengan mengalihkan reksadana pendapatan tetap ke reksadana lain, yaitu reksadana saham. reksadana saham menjadi pilihan karena saat ini berdasarkan pantauan kinerja pasar modal yang terlihat pada IHSG (indeks harga saham gabungan) memperlihatkan belum ada penurunan yang berarti walaupun terjadi gejolak rupiah yang sangat tajam.

Beberapa manajer investasi menyarankan pilihan investasi pada reksadana saham sangat cocok terutama untuk investasi jangka panjang karena memang akan memberikan keuntungan yang tinggi. Tetapi, akan menjadi ancaman juga bila suku bunga SBI yang selalu naik menyebabkan ada pindahan dari saham ke deposito.

Berinvestasi harus melihat kondisi lingkungan yang selalu berubah dan harus disesuaikan dengan rencana portfolio investasi yang dilakukan investor. Investor harus tahu karakter dari masing-masing jenis investasi dengan sikap risiko yang dimiliki investor. Misalnya, saham adalah jenis investasi yang mimiliki risiko yang lebih besar dibanding investasi pada obligasi, sehingga investasi pada saham akan memperoleh tingkat pengembalian yang lebih tinggi dibanding obligasi. Sikap investor terhadap risiko apakah konservatif, moderat, atau agresif, tentunya, akan berbeda dalam memilih jenis investasi dan bagian atau komposisi aset yang akan diinvestasikan.

Bagaimana bila pindah ke reksadana dolar, mungkin ini akan menguntungkan seperti terlihat pada tabel. Tetapi, melihat rupiah yang agak tenang kembali, keuntungan tersebut mungkin dalam jangka pendek saja.

Jadi, para investor yang berinvestasi pada reksadana harus memperhatikan portfolio masing-masing dengan disesuaikan pada komposisi asset dan sikap terhadap risiko. Selain itu, rencana investasi disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan, apakah ingin memperoleh keuntungan jangka pendek atau jangka panjang sehingga sikap ikut-ikutan bisa dihindari.***

Penulis, dosen FE Unpad, MM Unpad, dan Ketua III ISEI Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: