HOT MONEY MEMANG BUKAN HONEY

Prof. Roy Sembel
Dekan FE Universitas Multimedia Nusantara

Lima tahun lalu, tidak banyak orang yang menduga bahwa pasar
saham Indonesia akan melonjak sedemikian pesatnya sehingga indikator
pasar saham yaitu IHSG akan menembus di atas 2000. Saat itu level
IHSG berada di sekitar 400, tidak banyak beranjak sejak tahun 2000.
Dalam tempo 5 tahun terakhir, IHSG sudah melonjak lebih dari 5 kali
lipat. Dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2007, IHSG telah
melonjak lebih dari 20%.
Kenaikan yang luar biasa pesat ini rupanya bukan monopoli pasar
saham Indonesia saja, melainkan juga terjadi di pasar modal negara
lain baik di pasar yang sudah mapan maupun pasar yang sedang
berkembang (emerging markets). Misalnya saja MSCI Index (indikator
yang mewakili pergerakan pasar saham dunia) selama paro pertama
2007 juga telah meningkat di atas 20%. Fenomena global ini dimaknai
oleh banyak analis sebagai kelebihan likuiditas di level global
sehingga “too much money chasing too little financial instruments. ”
Singkatnya, ada banyak hot money beredar di seluruh dunia.
Ketersediaan dana besar, sementara tempat investasi sedikit. Harga
pun melambung tinggi sehingga banyak pemodal untung besar. Hot money
dipersepsikan menjadi primadona atau honey.
Sayangnya, peningkatan harga sekuritas finansial akibat aliran hot
money bersifat temporer. Uang panas itu biasanya dengan mudah akan
berpindah dari suatu pasar modal ke pasar lain. Akibatnya, uang
panas akan berdampak terhadap meningkatnya gejolak, baik di pasar
modal mau pun di pasar valas, khususnya di negara-negara yang pasar
finansialnya masih belum dalam.
Gejala gejolak (volatilitas) yang tinggi ini sudah mulai terasa di
Indonesia. Akibat masalah eksternal, yaitu tingginya kredit macet
pada sub prime mortgage di AS, pasar modal Indonesia pun terkena
getahnya. Pada peralihan bulan Juli Agustus 2007, IHSG bergejolak
seolah roller coaster. Setelah sempat mencapai rekor tertinggi
menembus 2401 pada minggu terakhir bulan Juli 2007, IHSG tumbang
sekitar 10% sampai ke level 2174 dalam hitungan hari. Gejolak terus
berlanjut memasuki minggu kedua bulan Agustus. Pada tanggal 10
Agustus 2007, indeks ditutup pada level 2207 melorot 34 poin
dibanding hari sebelumnya. Penawaran saham sekunder Bank BNI pun
menjadi korban. Banyak pemesan saham Bank BNI membatalkan pesanannya
karena khawatir kejatuhan pasar saham akan terus berlanjut.
Pelarian uang dari pasar finansial ini selain menyebabkan rontoknya
harga saham, juga membuat pasar obligasi dan mata uang rupiah
terguncang. Selama bulan Juli saja, jumlah dana yang diparkir di SBI
dan SUN telah turun belasan trilyun rupiah. Gejolak juga terasa
sekali di pasar valas sampai menjelang peringatan 10 tahun
Proklamasi Kemerdekaan Rupiah (pita intervensi rupiah dicabut dan
rupiah dibiarkan mengambang 14 Agustus 1997 – 14 Agustus 2007). Kurs
dollar menguat (rupiah melemah) dari level Rp 9100/$ ke level di
atas Rp 9300/$.
Hot money memang bisa bermanfaat saat uang itu masuk ke dalam pasar
atau negara. Kendati begitu, hot money akan menjadi boomerang saat
mereka secara cepat meninggalkan pasar atau negara. Volatilitas
adalah hal yang wajar dalam dunia yang semakin mengglobal. Kendati
begitu, gejolak yang berlebihan akan sangat kontra produktif bagi
perkembangan dan kesehatan pasar finansial dan perekonomian
nasional. Hot money bukanlah honey (madu). Jadi perlu ada mekanisme
terstruktur untuk meredam dampak volatilitas dari hot money.

Insentif, bukan larangan
Indonesia perlu mengundang dana asing masuk untuk berinvestasi di
Indonesia. Tetapi jenis dana asing yang diperlukan adalah dana untuk
sektor riil berjangka panjang. Investasi portofolio asing di
Indonesia sudah cukup, bahkan cenderung berlebihan. Saat ini dana
pihak ketiga yang masih menganggur (belum disalurkan sebagai kredit)
masih ratusan trilyun. Jadi dana domestik di sektor finansial masih
cukup besar.
Hal ini tidak berarti kita harus melarang dana asing yang
masuk untuk investasi portofolio ke sektor finansial. Cara yang
paling tepat adalah dengan memberi insentif kepada dana asing jangka
pendek itu untuk menetap di Indonesia. Sebagai contoh, bila dana
investasi portofolio jangka pendek itu telah mengendap setahun dan
kemudian dialihkan ke investasi sektor riil jangka panjang terutama
yang menyerap banyak tenaga kerja, maka diberikan insentif berupa
beberapa kemudahan seperti fasilitas swap valas dengan kurs menarik,
keringanan perpajakan, dll.
Selanjutnya, untuk dana asing yang belum masuk, bisa
dibuatkan perlakuan berbeda misalnya dengan subsidi silang rentang
kurs jual beli (bid-ask spread) yang lebih menguntungkan investor
jangka panjang di sektor riil. Pemerintah bisa juga melengkapi
daftar negatif investasi dengan daftar sektor yang menjadi prioritas
pengembangan (misalnya pembangunan infrastruktur di wilayah
tertinggal, pengembangan energi alternatif, industri berorientasi
ekspor, dll) yang akan diberikan kemudahan atau perlakuan khusus.
Sebagai tambahan, bagi investor asing yang telah setia
berinvestasi dalam jangka panjang di Indonesia perlu diberikan
apresiasi atau penghargaan khusus. Jangan sampai kita mencari kawan
baru namun melupakan sahabat lama.
Peringatan 10 tahun ‘Hari Kemerdekaan Rupiah’ 14 Agustus
1997, selayaknya dijadikan momentum untuk koreksi diri. Kebebasan
yang berlebihan bisa berbuah menjadi bencana seperti yang terjadi
semasa krisis tahun 1997-1998. Sebagai tuan rumah, kita berhak
menentukan tamu mana yang mendapat prioritas untuk diundang. Adanya
sistem penghargaan dan insentif khusus bagi tamu prioritas ini akan
meningkatkan manfaat menjadi investor jangka panjang di sektor riil
pada sektor yang akan membawa imbas nilai tambah yang signifikan
bila dikembangkan. Al hasil, komposisi tamu yang datang ke rumah
kita akan mengalami self-selection ke arah yang kita inginkan, yaitu
membawa manfaat jangka panjang yang win-win baik bagi tamu maupun
tuan rumah. Merdeka!

1 Komentar »

  1. Info menarik..Trims

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: