WIRAUSAHAWAN SOSIAL

Oleh:
Prof. Roy Sembel (Smart_WISDOM@ yahoogroups. com)
Pejabat Dekan FE Universitas Multimedia Nusantara
Sandra Sembel, pemerhati dan praktisi pengembangan SDM
(ssembel@yahoo. com)

Wirausahawan mungkin Anda sudah kenal. Lalu apa pula yang disebut
Wirausahawan sosial? Dua-duanya mencari uang, tapi tujuannya saja
yang berbeda. Jika wirausaha bisnis memiliki tujuan untuk
meningkatkan nilai kesejahteraan para pemegang saham, maka wirausaha
sosial bertujuan untuk meningkatkan nilai kesejahteraan anggota
masyarakat yang menjadi target layanan. Lalu, mengapa kita perlu
melakukan wirausaha sosial? Apa saja modalnya dan bagaimana
menjalankannya? Simak yang berikut.

MENGAPA WIRAUSAHA SOSIAL?

Pak Wira memiliki rumah yang bagus dan mewah di daerah banjir.
Namun, karena daerahnya menjadi langganan banjir, ia lalu menguruk
tanah untuk menaikkan permukaan tanah rumahnya, sehingga jika banjir
datang, rumahnya tidak terendam. Tetapi, karena rumahnya saja yang
paling tinggi, ketika banjir melanda, ia memang tidak terendam, tapi
ia tidak bisa keluar ketika berada di dalam rumah ataupun tidak bisa
masuk ketika berada di luar rumah, karena sekeliling rumahnya juga
banjir. Seandainya ia juga membantu orang-orang sekitarnya untuk
bersama-sama menanggulangi banjir, maka pastinya masalah banjir di
daerah tempat ia tinggal akan terpecahkan. Dampak positifnya tidak
hanya akan dinikmati oleh Pak Wira saja, tetapi juga semua warga
setempat.

Manfaat lebih meluas. Dari contoh pak Wira yang baru saja kita
bahas, bisa kita lihat bahwa wirausaha sosial bisa berdampak lebih
meluas, tidak hanya untuk satu orang, tetapi juga untuk banyak orang
dengan wilayah yang lebih luas.

Keuntungan lebih berlipat. Demikian pula dengan keuntungan. Yang
menikmati keuntungan bukan hanya satu orang, tetapi banyak orang.
Keuntungan ekonomi (mereka bisa tetap pergi untuk bekerja dan bisa
bekerja dengan tenang karena tidak perlu khawatir rumah kebanjiran,
sehingga prestasi juga lebih baik), keuntungan non-ekonomi
(keakraban antar warga terjamin, hidup saling tolong menolong, hidup
bisa lebih tenang)

Kepuasan lebih tinggi. Menolong banyak orang melipatgandakan
kepuasan kita dibandingkan dengan menolong diri sendiri saja.
Kepuasan mengatasi masalah satu kampung lebih tinggi dibandingkan
dengan kepuasan mengatasi masalah sendiri.

APA MODALNYA?

Jika wirausaha bisnis memerlukan modal, demikian pula dengan
wirausaha sosial. Namun modal uang bukanlah yang terpenting, yang
paling utama adalah modal berikut, modal uang akan datang dengan
sendirinya.

Berbagi. Modal utama bagi mereka yang ingin terjun di wirausaha
sosial adalah sikap berbagi. Tanpa sikap ini, wirausaha sosial tidak
akan jalan. Berbagi waktu, berbagi rejeki, berbagi pengetahuan,
pengalaman dan keterampilan. Ya, hanya dengan sikap berbagi inilah
wirausaha sosial menjadi lebih mudah dijalankan.

Membantu. Sikap berikutnya yang diperlukan adalah sikap membantu.
Sikap ini muncul bukan hanya karena diminta, tetapi adalah karena
melihat ketidakadilan, ketidaksejahteraan dilingkungan. Jadi, jika
ingin membantu, jangan menunggu sampai diminta terlebih dahulu baru
bertindak, tetapi, sebaliknya, sebelum dimintapun jika kita melihat
ada hal-hal yang bisa kita bantu, kita bisa segera bertindak
menawarkan bantuan.

Melayani. Satu lagi sikap penting yang perlu dimiliki oleh mereka
yang ingin terlibat dalam wirausaha sosial adalah sikap melayani.
Inilah sikap sejati seorang pemimpin, bukan untuk dilayani tetapi
untuk melayani.

Ketiga modal dasar ini saling menunjang dan saling terkait satu
dengan yang lainnya. Biasanya jika sudah punya salah satu dari sikap-
sikap ini, maka sikap lainnyapun lebih mudah untuk diterapkan atau
dipupuk.

BAGAIMANA MENJALANKANNYA?

Lalu, jika kita sudah memiliki modal untuk melakukan wirausaha
sosial, bagaimana kita menjalankannya?

Tujuan dan Target Layanan. Seperti juga wirausaha bisnis, wirausaha
sosial juga perlu mempunyai tujuan dan target layanan. Tujuan dan
target layanan inilah yang nantinya akan menjadi dasar dari setiap
keputusan yang diambil.

Misalnya: Ica dan Santi ingin sekali membantu anak putus sekolah
agar mandiri. Mereka lalu bertujuan untuk mengadakan pelatihan
singkat untuk anak-anak putus sekolah. Mereka akan dibekali dengan
keterampilan khusus yang bisa dijadikan bekal untuk membuka usaha
sendiri (misalnya: keterampilan mendaur ulang, pertukangan,
menjahit, membuat sablon).

Dukungan. Pada prinsipnya, segala bentuk usaha sulit untuk berhasil
jika dilakukan sendirian. Untuk itu diperlukan dukungan banyak
orang. Semakin banyak pihak yang mendukung, semakin mudah usaha
dilakukan. Kita bisa menggunakan tujuan awal usaha sosial untuk
dijadikan dasar menggalang dukungan dari berbagai pihak.

Misalnya: Dengan Tujuan dan Target layanan yang telah ditetapkan,
Ica dan Santi kemudian menghubungi berbagai pihak yang mungkin bisa
membantu untuk memberikan dukungan: dukungan tempat penyelenggaraan
pelatihan, dukungan tenaga ahli untuk memberikan pelatihan, dukungan
dana untuk operasional pelatihan.

Hasil dan Evaluasi. Setelah dukungan didapatkan, usaha sosial bisa
dilaksanakan dengan berorientasi pada hasil akhir, seperti yang
ditetapkan dalam tujuan. Hasil akhir ini kemudian bisa dievaluasi
untuk masukan bagi kegiatan berikutnya agar bisa terselenggara
dengan lebih baik: lebih fokus, lebih efektif dan lebih berdampak
luas secara positif bagi banyak orang. Hasil evaluasi ini juga
diperlukan untuk laporan bagi pihak-pihak yang mendukung untuk
memotivasi mereka agar bisa melanjutkan dukungan yang telah mereka
berikan untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya.

PELUANG USAHA?

Kegiatan sosial apa saja yang bisa kita bantu? Bagaimana jika kita
sendiri sudah disibukkan dengan pekerjaan di kantor atau usaha
pribadi? Banyak hal yang masih bisa kita lakukan untuk membantu
orang lain di sekitar kita.

Pendidikan. Sebuah bank menggalang bantuan dari para karyawan untuk
saling bergantian menyediakan satu atau dua jam dalam satu minggu
untuk menjadi pengajar di sebuah sekolah bagi anak-anak jalanan.
Kegiatan ini bisa juga dikoordinasi di lingkup RT/RW setempat,
ataupun di lingkup organisasi profesi, ataupun organisasi sosial.
Peluang dibidang home-schooling (pembelajaran di rumah atau di
lingkungan yang pengajarannya bisa saja dilakukan secara bergantian
diantara para orang tua) bagi masyarakat sekitar juga merupakan
alternatif yang bisa kita coba.

Kesehatan. Sebuah lembaga pendidikan secara rutin (setahun sekali)
menyelenggarakan layanan kesehatan bagi masyarakat setempat. Layanan
ini tiap tahunnya bervariasi: khitanan masal, imunisasi, operasi
bibir sumbing, operasi katarak, ataupun sekedar layanan pemeriksaan
kesehatan. Layanan kesehatan juga bisa dilakukan di lingkungan RT/RW
atau kompleks tempat tinggal kita, lingkungan sekolah tempat target
layanan kita belajar.

Kesejahteraan. Sebuah organiasi keagamaan, secara berkelompok
memberikan bea siswa bulanan bagi anak-anak yang kurang mampu. Satu
anak didanai oleh empat atau lima orang yang menyumbang kebutuhan
sekolah seperti uang sekolah, buku dan pakaian bagi satu orang anak.

Kebersihan Lingkungan. Dengan mewabahnya flu burung dan demam
berdarah, kita bisa juga melihat peluang untuk terjun di usaha
kebersihan lingkungan: kebersihan di lingkungan rumah, ataupun
kebersihan di sumber-sumber air (sungai, sumur). Di Amerika Serikat,
seorang pemuda menggalang kegiatan `adopt-a-mile’ river. Untuk
kegiatan ini, ia mengajak masyarakat di sepanjang sungai untuk
bertanggung jawab terhadap kebersihan sungai sepanjang satu mil yang
melewati kampung mereka. Ternyata, upaya menggalang dukungan
masyarakat ini akhirnya membuahkan hasil yang positif. Rukun-rukun
warga sepanjang sungai saling membantu dengan bertanggung jawab
terhadap kebersihan segmen sungai yang melewati kampung mereka saja.

Peluang Lainnya. Selain peluang usaha yang sudah disebutkan disini,
ada banyak peluang usaha sosial lainnya yang bisa kita jalankan.
Kita tinggal membuka mata bagi masalah sosial di sekeliling kita,
maka kita akan bisa menemukan banyak hal yang bisa kita bantu. Yang
penting adalah niat positif kita untuk memberikan kontribusi guna
menambah kualitas hidup masyarakat sekitar kita.

Dengan membantu masyarakat sekitar, kita juga membantu diri sendiri.
Dengan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar, kita juga
meningkatkan kualitas hidup kita sendiri. Kita tidak perlu
meninggalkan pekerjaan utama kita untuk terjun ke wirausaha sosial,
justru pekerjaan utama kita menjadi lebih bernilai dengan
partisipasi kita di bidang sosial. Nah, sudah siapkah Anda menjadi
wirausahawan sosial? Selamat mencoba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: