Bersenang-senang Dulu, Pensiun Masih Jauh

Kontributor: RISKA S HANDAYANI | RITA (04.07.2005 18:10)

Orang Asia menganggap menyisihkan dana pensiun belum merupakan prioritas.

Orang Asia ternyata merupakan bangsa paling optimistis di dunia. Mereka digolongkan sebagai the happy people. Lain lagi dengan orang Eropa dan Amerika. Mereka tergolong pesimistis. Paling tidak, itulah kesimpulan dari Survei Online Kepercayaan Konsumen dari ACNielsen yang dilaksanakan Mei 2005 di 38 negara.

Cuma sayang, Indonesia tidak termasuk dari bagian itu. Yang dimaksud dengan orang yang optimistis tersebut ternyata yang tinggal di India, Cina, dan Hong Kong.

Keoptimisan tersebut merupakan dampak dari perkembangan dan pertumbuhan ekonominya. “Bahkan dengan tingkat pertumbuhan lebih dari 8 persen per tahun, konsumen Cina dan India pada saat ini memiliki pengeluaran terbesar dalam sejarah dibanding masa sebelumnya,” ujar Farquhar Stirling, Direktur Pelaksana ACNielsen Asia Tenggara. Kedua negara tersebut saat ini menjadi konsumen terbesar di dunia. Hal ini didukung juga oleh jumlah populasi keduanya yang terbilang banyak.

Tidak hanya dalam memandang keadaan ekonomi, terhadap kondisi keuangan pribadi di masa mendatang mereka juga tergolong paling optimistis. Tingkat kepercayaan terhadap kondisi keuangan pribadi mereka berdasarkan survei tersebut sebesar 85 persen untuk India dan 70 persen untuk Cina.

Keoptimisan ini ternyata sejalan dengan pola belanja dan tingkat konsumerisasi mereka. Dalam hal belanja, konsumen di Cina daratan merupakan konsumen tak terkalahkan. Setelah memenuhi kebutuhan utama, sebanyak 50 persen membentuk kelompok fans besar untuk hiburan di luar rumah. Sementara itu, untuk belanja baju baru mencapai 44 persen dan teknologi baru 41 persen. Meski mereka juga menempatkan dana untuk menabung pada prioritas utama.

Untunglah persentase tinggi untuk aksi belanja itu tak terjadi di Indonesia. Rupanya orang Indonesia masih sadar diri, meski pertumbuhan pusat perbelanjaan di sejumlah kota besar seperti tak terbendung lagi. Indonesia memang bukan yang paling optimistis tapi juga tak terlalu pesimistis. Sedikitnya, menurut survei yang melibatkan 21.100 responden ini, orang Indonesia memiliki persepsi kinerja yang memburuk. Tapi bangsa ini memiliki pandangan positif tentang prospek kerja lokal, yang ditunjukkan dengan 56 persen.

Karena masih ada pandangan positif soal prospek kerja, orang Indonesia juga mempunyai penilaian positif soal keuangan pribadinya. Paling tidak sebanyak 66 persen. Jumlah tersebut jauh di bawah the happy people seperti India yang mencapai 85 persen. Lantas tak seperti orang Cina dan India yang gemar menghabiskan dana untuk hiburan di luar rumah selain menabung, setelah menabung (57 persen), orang Indonesia memilih melunasi utang atau tagihan kartu kredit (36 persen). Pada prioritas ketiga, baru membeli produk teknologi baru (29 persen). Diikuti, dana untuk liburan (28 persen) dan investasi (27 persen). Dana itu tentunya merupakan uang yang tersisa setelah biaya hidup esensial.

Kecenderungan orang Asia adalah menempatkan prioritas untuk menabung di nomor satu dan menyimpan dana pensiun pada skala paling bontot. Dana untuk pensiun yang disimpan orang Indonesia hanya 5 persen. Sementara itu, rata-rata di Asia Pasifik pun, dana untuk pensiun cuma 8 persen. Tampaknya, bagi bangsa di kawasan ini, “Tenang saja, pensiun masih jauh, gitu lo!” RISKA S HANDAYANI | RITA

Sumber: http://www.tempointeraktif.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: