Mengapa Memilih Reksa Dana

Reksadana, Menitip Dana di Tangan Manajer Investasi

Sudah lama Robert membaca dan mendengar cerita tentang pasar modal melalui koran-koran atau majalah bekas yang dijualnya di Pasar Senen. Hampir setiap hari ia membaca berita tentang keuntungan para pemodal karena harga saham naik. Demikian pula sebaliknya berita tentang kerugian yang diderita oleh para investor karena harga saham turun.

Membaca dan mendengar berita tentang keuntungan yang diperoleh investor, timbul niat Robert untuk membeli saham. Bahkan ia juga ingin seperti orang lain yang dapat memiliki saham perusahaan yang go public. Tapi sebagai seorang penjual koran bekas Robert menyadari keterbatasan modalnya.

Ia mengakui bahwa dengan modal sebesar Rp 500 ribu tidak mungkin mampu membeli beberapa saham atau ikut terlibat langsung di dunia pasar modal. Mustahil katanya, jika hanya dengan modal sebesar Rp 500 ribu bisa berinvestasi di pasar modal.

Lain Robert yang pedagang buku, koran dan majalah bekas, lain pula Dewi, si pengacara kawakan. Bagi Dewi, dana tidak menjadi masalah untuk bermain saham. Tetapi, waktu yang sangat terbatas membuatnya enggan menanamkan sebagian dananya di pasar modal. Maklum, selain sebagai seorang pengacara, Dewi juga berprofesi sebagai dosen fakultas hukum di beberapa universitas.

Seperti Robert, Dewi pun sangat tertarik dengan dunia pasar modal. Tapi karena keterbatasan waktu untuk memantau perkembangan harga saham dan mengumpulkan informasi tentang kinerja emiten serta keterbatasan pengetahuan tentang pasar modal maka dananya tetap ditanamkan di deposito.

Sebetulnya banyak orang seperti Robert dan Dewi. Mereka ingin menanamkan uangnya di pasar modal, namun terbentur pada sejumlah kendala. Ada yang mengalami kendala pada dana yang terbatas dan ada pula yang terbentur pada waktu dan sebagainya.

Dengan dana yang terbatas tidak mungkin dilakukan diversifikasi investasi. Sedangkan investasi yang tidak terdiversifikasi akan meningkatkan risiko investasi dan risiko kehilangan modal.

Seorang investor awam tak memiliki akses informasi yang cukup untuk mengambil keputusan investasi secara cermat. Investor itu juga tidak mengetahui saham yang harus dibeli berdasarkan informasi yang memadai.

Itu sebabnya akan lebih aman jika seorang pemodal atau investor menyerahkan pengelolaan dananya kepada para manajer investasi (fund manager), yang pekerjaannya setiap hari memikirkan optimalisasi hasil investasi.

Sekarang ini sebetulnya, kendala yang dialami calon investor seperti Robert dan Dewi tidak perlu ada lagi. Hingga kini sudah puluhan reksa dana yang ditawarkan oleh banyak manajer investasi dengan berbagai keuntungan dan risiko yang bakal dihadapi. Jadi para pemodal kecil (seperti Robert) tidak perlu khawatir. Sebab reksa dana terbuka memungkinan pemodalnya menarik kembali dana yang ditanamkan di reksa dana.

Pada reksa dana berbentuk perseroan terbuka, perusahaan wajib membeli kembali saham yang dijual oleh investor. Sedangkan pada reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK), manajer investasi wajib membeli unit penyertaan yang dijual oleh investor.

Pemegang unit penyertaan reksa dana bisa mendapatkan laporan mengenai perkembangan Nilai Aktiva Bersih (NAB) setiap hari. Dengan demikian seorang pemegang saham atau unit penyertaan reksa dana dapat mengetahui nilai unit penyertaan reksa dananya. Nilai saham atau unit penyertaan KIK ditentukan berdasarkan NAB.

Reksa dana KIK semuanya bersifat terbuka. Itu sebabnya, jenis reksa dana ini sangat laris. Tanpa perlu mendirikan PT, reksa dana KIK bisa beroperasi sepanjang ada manajer investasi dan bank kustodian dan mendapat izin dari Bapepam.

Reksa dana berbentuk KIK adalah kontrak antara manajer investasi dan bank kustodian. Manajer investasi berperan sebagai pengelola dan bank kustodian berfungsi sebagai penyimpan efek dan uang.

Selain itu, tingkat keamanan dana yang dititipkan pada reksa dana takperlu dikhawatirkan. Karena selain memberi izin operasi, Bapepam juga mengawasi kegiatan reksa dana.

Oleh karena itu, reksa dana merupakan suatu wadah penempatan dan investasi yang paling transparan. Karena, harga per unit dihitung oleh pihak ketiga dalam hal ini bank kustodian. Harga per unit penyertaan dihitung dan dipublikasikan setiap hari bursa.

Tambahan pula, setiap bulan, reksa dana harus menyampaikan laporan dan kegiatan yang diawasi ketat oleh Bapepam. Dana investasi juga harus diperiksa oleh auditor independen setiap enam bulan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: