MEMISAHKAN KEUANGAN RUMAH TANGGA DAN BISNIS

Oleh: Ahmad Gozali
(www.perencanakeuang an.com)

Dikutip dari Harian Republika, Desember 2006

Assalamualaikum wr wb
Yth Bapak Ahmad Gozali

Saya adalah karyawan swasta yang sedang punya masalah keuangan. Saat ini, penghasilan saya sangat minim yakni Rp 1.700.000. Hal ini karena gaji di kantor banyak potongan (bayar cicilan rumah Rp 490 ribu, bayar kredit Bank Bukopin yang dipakai untuk uang muka pengambilan rumah Rp 320 ribu, dan bayar kredit BMI Rp 260 ribu).

Kredit BMI saya gunakan untuk buka usaha kecil-kecilan di rumah (warung kelontong). Sampai saat ini usaha tersebut sudah berjalan dua bulan dan progresnya cukup bagus, baik dari penambahan jumlah barang maupun peningkatan omzet penjualan sebulan terakhir yakni Rp 7 juta dari Rp 4.500.000 pada bulan pertama. Saya juga menambah jenis usaha dengan menjual voucher elektrik Rp 300 ribu dalam sepuluh hari, dan air mineral dalam kemasan cup dan galon dengan penjualan setiap bulan sekitar 40 galon (Rp 500 ribu).

Awal mulanya, pemotongan gaji saya tidak begitu bermasalah karena suami bisa menutupi semua kebutuhan rumah tangga kami, termasuk cicilan rumah. Tapi beberapa bulan ini, usahanya (memasarkan barang cetakan punya temannya dan jual beli sampah) sedang macet dan tidak berkembang sehingga penghasilan yang selama ini ada menjadi hilang sama sekali.

Saya khawatir modal usaha yang sudah ada dan berjalan, habis tersedot untuk kebutuhan rumah tangga mulai dari bayar cicilan rumah, listrik, iuran sekolah anak-anak, dan biaya makan sehari-hari, karena indikasi ke sana sudah mulai terlihat. Bagaimana langkah-langkah yang bisa saya lakukan untuk mengatasi hal ini, Pak?

Saya sangat khawatir usaha saya itu nanti bangkrut karena kehabisan modal. Lalu langkah apalagi yang harus saya ambil untuk lebih mengembangkan usaha tersebut? Selain itu pertanyaan untuk suami saya, apakah sebaiknya dia kembali bekerja di kantor atau terus menekuni bisnisnya? Untuk Bapak ketahui, suami saya saat ini berusia 43 tahun dan pernah bekerja di bagian umum perusahaan penerbitan, tidak mempunyai keahlian khusus. Saran Pak Gozali berikut tahap-tahap yang harus saya lakukan amat saya harapkan saat ini. Sebab, kami sekeluarga dalam keadaan kalut. Terima kasih. Semoga Allah memberikan balasannya pada Pak Gozali sekeluarga.

Rianti

Jawaban:

Waalaikumussalam wr wb
Ibu Rianti, senang sekali menerima email dari Anda. Saya sarankan untuk menghadapi permasalahan ini dengan jernih dan tidak terlalu khawatir. Saya yakin tidak ada persoalan yang tidak bisa dipecahkan asalkan tetap berpikir jernih dan berikhtiar mencari solusi yang jitu.

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah memisahkan antara keuangan rumah tangga dengan keuangan bisnis yang Anda jalani. Ingat, yang saat ini bermasalah adalah hilangnya penghasilan suami, sehingga berimbas pada keuangan keluarga. Jangan sampai masalah ini ikut menggerogoti usaha yang sudah Anda rintis. Maka solusinya adalah penghematan dalam pengeluaran rumah tangga, tetapi usahakan jangan sampai mengganggu bisnis Anda sendiri. Karena kalau bisnis Anda juga ikut digerogoti, maka permasalahan Anda malah akan makin bertambah parah di bulan berikutnya karena akan kehilangan penghasilan dari usaha Anda.

Kalau saya hitung-hitung, penghasilan keluarga Anda saat ini dari gaji bersih Anda sebesar Rp 1.700.000 dan perkiraan laba usaha Rp 1.500.000 per bulan. Sehingga total penghasilan per bulan mencapai Rp 3,2 juta. Usahakan dengan penghasilan sebesar ini sudah mampu mencukupi semua kebutuhan rumah tangga. Hal ini sangat penting, agar jangan sampai modal usaha Anda tersedot untuk kepentingan rumah tangga. Coba Anda lakukan evaluasi kembali terhadap pengeluaran rumah tangga selama ini. Memang pahit ketika harus melakukan hal ini, tapi bagaimanapun hal ini adalah konsekuensi logis dari berkurangnya penghasilan suami Anda. Jika jumlah ini masih belum mencukupi, maka Anda mau tidak mau harus memperbesar omzet usaha Anda agar bisa meningkatkan labanya.

Mengenai kondisi usaha Anda, saya sarankan jangan mengadakan pengembangan dengan menambah setoran modal, yang penting bisa bertahan, modal tetap berputar tanpa dipakai untuk kebutuhan pribadi. Cari strategi untuk meningkatkan penjualan tanpa perlu menambah modal, misalnya dengan memperluas jaringan pemasaran. Contoh konkritnya, lakukan kerja sama dengan usaha pengantaran barang untuk memperluas pasar Anda, atau mencari supplier yang bisa memberikan harga lebih murah sehingga laba juga bertambah.

Sedangkan mengenai suami Anda, lakukan analisa apakah kendala usahanya bersifat permanen atau temporer saja. Bila temporer, carilah upaya agar bisnis tersebut bisa berkembang lagi. Tetapi bila usahanya sudah macet secara permanen, tidak ada salahnya mencari bisnis yang lain atau konsentrasi mengembangkan bisnis air, voucher atau toko yang sudah ada. Kembali mencari pekerjaan yang sesuai boleh saja, tapi mungkin ini adalah alternatif saja karena mempertimbangkan usianya saat ini.

Demikian, semoga bisa menjadi solusi.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

2 Komentar »

  1. There are certainly a variety of details like that to take into consideration. That could be a great level to carry up. I offer the ideas above as common inspiration but clearly there are questions just like the one you convey up where the most important factor might be working in honest good faith. I don?t know if greatest practices have emerged around things like that, however I’m certain that your job is clearly recognized as a good game. Both girls and boys feel the impact of just a second’s pleasure, for the rest of their lives.

  2. I gotta favorite this internet site it seems extremely helpful very helpful

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: