MODAL UNTUK MEMBELI FRANCHISE

Assalamualaikum wr wb

Pak Gozali Yth,
Saat ini saya tertarik untuk membeli franchise dengan pertimbangan sistemnya sudah terbentuk dan terbukti profitable. Jadi, menurut saya lebih baik membeli franchise dari pada saya membuka usaha pribadi. Bagaimana menurut Bapak? Franchise yang ingin saya beli sekitar Rp 50 juta. Namun, saya menghadapi kendala dalam hal permodalan. Menurut Anda, ke mana sebaiknya saya mencari sumber pendanaannya? Berapa bagi hasil yang ideal antara saya yang punya ide membeli franchise dan secara penuh bertanggung jawab atas usaha tersebut dengan pihak lain yang merupakan penyandang dana dan tidak ikut terlibat dalam operasional usaha?

Terima kasih atas kesediaan Bapak memberikan saran kepada saya.

Aini

Jawaban:

Waalaikumussalam wr wb
Membuka usaha dengan cara membeli sistem usaha yang sudah ada, atau yang biasa disebut sebagai waralaba (franchise) memang menjadi salah satu solusi dari repotnya mencari ide usaha dan menyiapkan setting awal usaha. Namun di balik kemudahan itu, tentunya ada harga yang harus Anda bayarkan, yaitu Anda harus ‘membeli’ hak untuk bisa menggunakan nama dan sistem usaha yang sudah berjalan.

Bukan berarti jalannya tertutup jika Anda tidak memiliki modal yang memadai. Ada beberapa sumber permodalan yang bisa dijajaki. Alternatif pertama yang biasanya dipikirkan oleh calon pengusaha memang bank. Namun dalam hal ini, kecil sekali kemungkinannya bank bisa menyediakan kredit usaha untuk hal ini. Karena bank hanya mau memodali usaha yang sudah berjalan, bukan usaha yang baru berdiri. Kalaupun menggunakan bank, maka yang bisa dilakukan adalah meminjam dengan skema kredit konsumtif, dan disertai dengan agunan yang memadai.

Alternatif pembiayaan dari lembaga keuangan lainnya yang masih memungkinkan yaitu melalui pegadaian. Walaupun prosesnya mudah, namun sayangnya pinjaman dari pegadaian ini sifatnya jangka pendek. Sehingga Anda perlu memperhitungkan kembali apakah usaha Anda memiliki cashflow yang cukup baik untuk menutup pinjaman ini.

Sumber permodalan yang lebih saya sarankan justru investor pribadi. Karena biasanya investor pribadi lebih mengandalkan kepercayaan daripada persyaratan administratif yang seringkali mengganjal pengusaha baru. Kalau prospek usahanya memang bagus, Anda bisa menawarkan pada beberapa kawan Anda untuk berpatungan dalam memulai bisnis ini. Dengan lima orang investor, modal yang diperlukan menjadi relatif ringan dan setiap investor bisa berbagi hasil sesuai dengan proporsi modal yang disetorkannya. Sedangkan bagi hasil dengan Anda sebagai pengusahanya bisa ditentukan sesuai dengan kesepakatan. Untuk itu, Anda perlu membuat rencana usaha dan target penerimaan agar bisa menentukan besarnya bagi hasil yang pantas.

Namun, tidak semua investor mau memodali pengusaha untuk membeli hak waralaba. Bagi sebagian besar waralaba, siapa saja yang bisa menyediakan modal uang bisa menjadi pengusaha terwaralaba. Karena sebagian besar pekerjaan teknis dilakukan oleh pihak pewaralaba. Oleh karena itu, jika Anda mencari modal untuk membeli hak waralaba, sepertinya akan lebih sulit didapatkan daripada Anda meminjam modal untuk mendirikan usaha sendiri. Karena logikanya, untuk apa pemodal meminjamkan uangnya pada Anda untuk membeli waralaba jika ia bisa membeli sendiri waralaba tersebut. Toh yang dibutuhkan hanya modal uang saja.

Namun asumsi itu hanya berlaku jika usaha waralaba yang akan dijalankan memang benar-benar dikendalikan langsung operasionalnya oleh pihak pewaralaba. Jika usaha yang dijalankan nanti banyak memerlukan keterlibatan operasional terwaralaba, maka asumsi ini tidak berlaku. Karena bukan hanya modal yang dibutuhkan, namun tentunya juga skill kewirausahaannya. Maka pastikan satu hal, bahwa keterlibatan Anda nantinya akan cukup besar dalam usaha ini. Hal ini akan meyakinkan pemodal untuk mau menanamkan modalnya pada usaha Anda.

Selain itu, alasan pemodal tidak membeli waralaba adalah tidak mau menanggung risiko. Jika Anda mau menanggung risiko secara penuh, dan pemodal betul-betul hanya ‘meminjamkan uang’ saja tanpa terlibat risiko, besar kemungkinan Anda akan menemukan pemodal yang mau berinvestasi. Tapi jika Anda membagi risikonya, maka pastikan juga bahwa Anda tidak meminjam modalnya 100 persen, namun harus ikut berpartisipasi juga dalam permodalan. Hal ini akan meyakinkan pemodal bahwa Anda memang bersungguh-sungguh dan memiliki risiko kehilangan uang juga, bukan hanya si pemodal.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: