MEREVOLUSI INDONESIA DENGAN TI

Oleh:
Prof. Roy Sembel, Direktur MM Finance and Investment, Universitas
Bina Nusantara
Smart_WISDOM@yahoogroups.com

MENGAPA REVOLUSI TI?

Banyak manfaat yang bisa dinikmati Indonesia dari Teknologi
Informasi. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

Connecting People. Sebuah tayangan di sebuah stasiun televisi
internasional memperlihatkan penggunaan teknologi informasi yang
memungkinkan seorang petani di pedalaman untuk berhubungan dengan
sekelompok ahli pertanian di sebuah universitas terkemuka. Sang
petani sedang mendapatkan pengarahan tentang cara-cara meningkatkan
produktivitas lahan pertanian. Di tayangan berikutnya, terlihat sang
petani sedang berkomunikasi dengan petani lain di belahan bumi yang
berbeda. Keduanya sedang bertukar informasi tentang cara-cara bertani
yang memberikan hasil yang positif. Tayangan selanjutnya
memperlihatkan sang petani sedang meng’komunikasikan’ produknya
kepada calon `pembeli’ yang berada di belahan bumi yang berbeda.
Coba bayangkan jika semua hal yang positif ini terjadi pada para
petani di Indonesia! Mungkin import beras tidak perlu diperdebatkan
lagi, karena kebutuhan beras sudah bisa terpenuhi dari sumber di
dalam negeri.

Revolusi Pembelajaran. Kekurangan dana untuk membangun sekolah,
kekurangan tenaga pengajar yang bersedia ditempatkan di desa, ataupun
kekurangan tenaga pengajar berkualitas tidak perlu lagi menjadi
masalah bagi dunia pendidikan di Indonesia. Teknologi informasi
memungkinkan seorang siswa untuk tidak tergantung pada satu orang
guru atau gedung sekolah secara fisik untuk belajar. Siswa bisa
belajar dari guru lain, siswa lain di sekolah lain di daerah lain,
ataupun dari sekelompok ilmuwan, sekelompok praktisi di kota lain,
bahkan di belahan bumi yang berbeda. Siswa juga bisa belajar dari
sumber informasi yang lebih beragam: informasi dari majalah
elektronik, perpustakaan elektronik (e-library), artikel elektronik
(e-article), buku elektronik (e-book) ataupun komunitas pembelajaran
maya (e-community) untuk topik-topik yang diminati. Proses belajar
menjadi lebih menarik dengan sumber informasi yang lebih hidup (dalam
tayangan multimedia) dan lebih beragam (tidak tergantung pada satu
guru saja). Mungkinkah ini terjadi di negeri kita tercinta? Mengapa
tidak?

Revolusi Sumber Penghasilan. Dua orang ibu Rumah Tangga mendapatkan
penghasilan tambahan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Pada
mulanya, mereka mempromosikan kue-kue kering yang mereka buat ke
pasar lokal lingkup lokal, lalu nasional dengan memanfaatkan
teknologi informasi. Pasarpun akhirnya meluas ke lingkup
internasional. Karena permintaan yang makin meningkat, mereka
menggerakkan para ibu di kompleks tempat mereka tinggal untuk menjadi
mitra bisnis untuk membantu membuat kue kering dan menambah variasi
kue kering yang mereka buat. Kue kering difoto dan dikirmkan pada
calon pembeli. Calon pembeli memilih kue yang diinginkan dan
menyebutkan jumlah kue yang dipesan. Lalu kuepun akhirnya diekspor ke
tempat pembeli. Di daerah lain, seorang mahasiswa mendapatkan uang
tambahan dengan memberi kursus matematika jarak jauh kepada seorang
pelajar sekolah menengah di Australia. Tiap bulan sang mahasiswa
mendapat penghasilan $50 dari satu pelajar. Dari lima pelajar yang
dilayani, sang mahasiswa mendapat uang sekitar Rp. 2,5 juta perbulan!
Mungkin saja dengan teknologi informasi, jumlah pengangguran bisa
menurun drastis?

PERSIAPAN REVOLUSI TI

Jika teknologi informasi bisa memberikan banyak manfaat yang dapat
merevolusi perbaikan kehidupan bangsa, lalu apa yang harus kita
persiapkan agar revolusi TI ini bisa segera bergulir?

Thinking Breakthrough (Terobosan Cara Berpikir). Teknologi hanyalah
pendukung perubahan. Pelaku perubahan dan yang menikmati dampak dari
perubahan adalah manusia. Jadi, yang pertama harus dipersiapkan
adalah manusianya. Manusia digerakkan oleh pikiran mereka. What you
think is what you get. Inilah pepatah yang mungkin bisa kita pegang
dalam merevolusi manusia Indonesia. Revolusi manusia dimulai dengan
merevolusi cara berpikir mereka. Pikiran mereka harus `dibuka’
dengan `berpikir positif’ dan `berpikir kedepan’. Beberapa minggu
lalu, ketika penulis mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam
memberikan pelatihan Teknologi Informasi bagi para guru SMA, 99,99%
guru yang ikut pelatihan mulai dengan pola pikir `Teknologi itu
sulit’, `Saya sudah terlalu tua untuk belajar Teknologi’, atau yang
lebih parah lagi pikiran berikut `Buat apa saya belajar Teknologi,
toh nanti setelah kembali ke sekolah tidak bisa diterapkan karena
tidak ada sarana teknologi’. Nah, sebelum pelatihan dimulai, penulis
dan tim berusaha keras memperkenalkan `Thinking Breakthrough’ kepada
para guru tersebut. Caranya? Dengan memberikan kepada mereka
kesempatan untuk `melihat’, `mencoba’, dan `mengalami’ sendiri
manfaat dari penggunaan teknolgi untuk `mempermudah’ pekerjaan mereka
dan membuat pekerjaan mereka menjadi lebih meriah dan menarik. Ketika
pikiran sudah terbuka, barulah mereka bisa mulai menerima topik-topik
pelatihan selanjutnya.

Learning Breakthrough (Terobosan Pembelajaran). Selain terobosan cara
bepikir, terobosan pembelajaran juga perlu dilakukan. Jika cara
pembelajaran yang sekarang banyak diterapkan adalah pembelajaran satu
arah (dari guru ke siswa), ataupun dua arah (guru ke siswa, siswa ke
siswa), maka terobosan pembelajaran yang memungkinkan pembelajaran
multi-arah, dan multi sumber dengan cara yang super mudah perlu
diperkenalkan. Strategi belajar mandiri baik dengan maupun tanpa
teknologi informasi, belajar melalui komunitas pembelajaran, belajar
dengan memanfaatkan gaya belajar masing-masing, serta strategi
belajar dengan menggabungkan belajar mandiri, belajar dengan
komunitas, serta belajar di kelas juga perlu diperkenalkan. Dengan
demikian, proses pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih menarik dan
lebih kaya dari sekedar pembelajaran satu arah di kelas. Para ahli
pembelajaran di Indonesia tentunya bisa lebih memikirkan dan
menemukan terobosan pembelajaran yang lebih revolusioner untuk
membantu pengembangan manusia Indonesia dengan lebih cepat dan lebih
efektif.

Technology Breakthrough. Terobosan yang juga penting untuk
dipersiapkan adalah terobosan teknologi. Terobosan ini diperlukan
agar teknologi yang digunakan menjadi semakin mudah untuk digunakan
(bahkan untuk mereka yang buta huruf sekalipun) dan semakin murah
juga untuk dimanfaatkan (jika sekarang harga satu perangkat teknologi
informasi bisa mencapai 10 juta, dengan terobosan teknologi
diharapkan harganya bisa ditekan menjadi separuhnya, sepertiganya,
bahkan jika mungkin sampai 10%nya saja atau gratis?). Hal ini
tentunya memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak, misalnya ahli
teknologi dan ahli pembelajaran.

MENJEMBATANI `DIGITAL DIVIDE’

Jika berbagai terobosan sudah dilakukan, lalu program apa yang bisa
diterapkan untuk melakukan revolusi TI yang berdampak positif bagi
kemajuan dan pembangunan bangsa kita? Beberapa usulan dibawah ini
mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi atau batu loncatan untuk
tercetusnya program-program lain yang tentunya jauh lebih baik dan
lebih praktis untuk diterapkan guna menjembatani kesenjangan digital
dan menggulirkan revolusi teknologi informasi.

Gerakan TI Masuk Kampung. Jika listrik, TV dan radio juga bisa masuk
desa, maka target kita selanjutnya adalah TI masuk kampung baik di
kota maupun di desa. Caranya? Mengapa tidak mencontoh cara pendirian
posyandu di seluruh penjuru Indonesia? Masyarakat dan pemerintah
daerah bisa menggalang pendirian PUSTI (pusat layanan teknologi
informasi?). Disini bisa lakukan sosialisasi TI, kegiatan
pembelajaran masyarakat dengan memanfaatkan TI. Sebagai contoh,
seorang teman penulis bersama beberapa rekannya mendirikan pusat TI
di sebuah desa di Indonesia dengan target layanan: para petani. Para
petani diberi `kursus kilat’ cara memanfaatkan komputer dan Internet
untuk mencari informasi mengenai strategi bertani dan teknologi
pertanian. Mereka juga diperkenalkan strategi belajar kolaboratif,
yaitu dengan bertukar informasi dengan petani di desa lain, ataupun
menggali informasi dengan menghubungi ahli-ahli pertanian di kota
lain. Para petani ini juga diberdayakan untuk mengadakan kegiatan dan
pertemuan rutin di pusat layanan teknologi informasi ini yang
menunjang pekerjaan mereka, sehingga mereka tidak merasa sia-sia
untuk datang dan berpartisipasi.

Change Agent. Masyarakat akan bergerak untuk melakukan perubahan jika
ada tokoh yang menggerakkannya. Mengambil teladan dari gerakan
Keluarga Berencana yang berhasil membawa perubahan positif di
Indonesia, kita bisa melakukan hal yang serupa. Pada gerakan
merevolusi masyarakat Indonesia melalui teknologi informasi, tiap
komunitas perlu memilih Change Agent (agen pembawa perubahan) yang
bisa dihormati oleh dan mempunyai pengaruh positif pada masyarakat
setempat: pemuka agama, pemuka budaya/adat, pemuka masyarakat dan
keluarga mereka. Merekalah yang perlu `diubah’ terlebih dahulu
sebelum mereka bisa membawa perubahan bagi masyarakat setempat.

Kolaborasi Swasta, Pemerintah, Masyarakat. Gerakan revolusi akan
lambat bergulir jika hanya diprakarsai oleh satu orang atau satu
kelompok masyarakat saja. Untuk itu diperlukan kolaborasi antara
bebarapa bagian penting di masyarakat, yaitu swasta, pemerintah dan
masyarakat. Misalnya, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi
informasi bisa berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah serta
masyarakat setempat untuk membawa perubahan. Perubahan ini tentunya
akan memberi keuntungan juga pada perusahaan TI tersebut (karena
produknya akan diguanakan) dan nama perusahaan akan harum dan
dipercaya masyarakat sebagai mitra pembeharuan. Perubahan juga akan
berdampak positif bagi pemerintah daerah yang akan semakin dicintai
masyarakat. Dan tentunya perubahaan akan memberikan manfaat langsung
bagi masyarakat. Jadi, jika kolaborasi ini menguntungkan semua pihak,
mengapa tidak mulai saja melakukan kolaborasi?

Teknologi informasi sendiri tidak akan pernah bisa membawa perubahan
bagi masyarakat, tetapi masyarakat yang menggunakan teknologi
informasi akan mampu merevolusi kehidupan mereka ke arah yang
positif. Nah, bagaimana? Sudah siapkah kita semua untuk menerima
tantangan mengejar ketinggalan kita dari bangsa lain dengan
merevolusi bangsa ini melalui pemanfaatan teknologi informasi yang
bertanggung jawab? Selamat Tahun Baru dan sukses untuk kita semua di
tahun yang akan datang!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: