TIPS CARA MENGHITUNG UANG PERTANGGUNGAN ASURANSI JIWA

Pada artikel minggu yang lalu telah kita bicarakan secara
umum tentang asuransi, pentingnya asuransi dalam perencanaan
keuangan, jenis-jenis asuransi dan bagaimana kita memilihnya serta
bagaimana memilih perusahaan asuransi. Dalam artikel berikut kita
akan bersama-sama masuk lebih detil lagi yaitu bagaimana menghitung
nilai uang pertanggungan sesuai dengan kebutuhan.
Sekali lagi ingin kami ingatkan bahwa asuransi jiwa adalah sebuah
perencanaan. Tujuan dari pembelian asuransi seharusnya bukan seperti
halnya membeli produk lain yang bisa langsung dipakai, asuransi
bukanlah sebuah produk seperti itu. Karena, seseorang membeli
asuransi bukan untuk digunakan saat ia membeli asuransi tersebut.
Jika seseorang mau membeli asuransi untuk langsung dipergunakan, maka
mungkin ia sudah merencanakan untuk bunuh diri atau melakukan
tindakan kriminal lainnya.

Mengapa membeli asuransi ?
Paling tidak kami menemukan 3 (tiga) alasan mendasar alasan mengapa
orang tidak/belum mau membeli asuransi. Pertama, ia belum melihat
asuransi merupakan kebutuhan hidupnya, karena ia belum mempunyai uang
yang cukup untuk itu. Apa yang menjadi pusat perhatiannya saat ini
adalah mencukupi kebutuhan dasarnya. Keadaan ini sesuai dengan sudut
pandang tingkat kebutuhan versi Abraham Maslow, yang menempatkan
security needs (termasuk didalamnya asuransi) berada pada tingkatan
kedua, setelah kebutuhan dasar. Alasan ini mudah dimengerti, karena
bagaimana orang akan membeli asuransi jika untuk makan-minum dan
kebutuhan sehari-hari saja masih belum dapat tercukupui.
Kedua, keadaan ekstrim lainnya yaitu orang yang sudah banyak sekali
memiliki uang/aset sehingga tidak memerlukan lagi membeli asuransi
untuk menutupi risiko yang mungkin timbul. Dalam pandangannya, jumlah
harta yang bejibun dan aset-aset produktif yang menghasilkan uang
tanpa harus bekerja itu telah menjadi proteksi yang membuat asuransi
tidak diperlukan lagi bagi dirinya.
Ketiga, orang yang tidak begitu memahami apa manfaat yang mungkin
diperoleh jika ia membeli asuransi. Termasuk dalam kelompok ketiga
ini orang-orang yang mengatakan membeli asuransi itu berarti
meramalkan kematiannya atau mereka yang mengatakan “Hidup dan mati
itu ditangan Tuhan. Mengapa harus dipikirkan.” (pada hal asuransi
tidak mempersoalkan kematian itu an sich, karena yang dipersoalkan
atau diantisipasi adalah apa yang terjadi setelah kematian tersebut,
dan dampak bagi orang-orang hidup yang terkait dengannya seperti
pasangan hidup, anak, dan keluarga).
Jika terjadi kematian pada seseorang, sementara orang tersebut adalah
pencari nafkah utama di dalam keluarganya, maka akan hilanglah
sebagian besar pendapatan, atau mungkin bahkan seluruh pendapatan
yang diterima oleh keluarga. Yang kemudian terjadi dalam waktu dekat
akan terbayang sebuah keluarga yang tidak mendapatkan atau berkurang
pemasukan bulanannya secara significant.
Akibat yang segera dirasakan adalah tingkat kesejahteraan hidup dan
standar gaya hidup mulai terganggu, apalagi jika kemudian datang
berbagai tagihan hutang almarhum, tagihan kartu kredit, tagihan biaya
pengobatan yang belum dibayar, biaya pemakaman, dan sebagainya.
Jangankan mereka yang sama sekali tidak memiliki asuransi jiwa,
keluarga yang sudah membeli asuransi jiwa pun masih mungkin terganggu
secara finansial jika tiang penopang utama keluarganya meninggal
dunia.

Cara menghitung uang pertanggungan asuransi.
Baiklah kita mengambil satu contoh kasus, Anton (sebut saja demikian)
sudah membeli asuransi jiwa dengan jumlah santunan kematian Rp 100
juta. Namun setelah ia wafat, ternyata ia masih memiliki hutang yang
harus segera dilunasi sebesar Rp 150 juta. Sehingga ia bukan
meninggalkan kesejahteraan (melalui asuransi yang dimilikinya) kepada
keluarga yang ditinggalkannya, melainkan beban penderitaan. Dari
contoh keadaan ini, mereka yang sudah memiliki asuransi pun masih
perlu memikirkan sejauh mana jumlah santunan kematian yang mungkin
diterima keluarganya kelak akan mencukupi berbagai kebutuhan dan
kewajiban secara menyeluruh.
Sampai disini kita mungkin bertanya, apa saja faktor-faktor yang
perlu diperhitungkan ketika seseorang (anda) merencanakan untuk
membeli asuransi? Berikut, empat hal yang dapat dipertimbangkan
sebagai faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan jumlah uang
pertanggungan, Pertama, berapa jumlah hutang yang anda miliki?;
kedua, berapa banyak aset/harta yang anda tinggalkan untuk keluarga?;
ketiga, berapa lama aset tersebut dapat menghidupi mereka tanpa harus
menurunkan standar gaya hidup mereka?; dan keempat, berapa banyak
dana yang diperlukan untuk membiayai kehidupan anak-anak anda sampai
mereka menjadi dewasa dan mandiri, termasuk biaya pendidikan mereka?

Mari Berhitung!
Berikut kami berikan gambaran dan contoh sederhana cara
menghitungnya :
Pendapatan :
Pendapatan Anda : Rp. – (pendapatan yang hilang)
Pasangan Anda : Rp. 12.000.000 (asumsi pendapatan per tahun)
Pendapatan Investasi : Rp. 2.000.000 (asumsi per tahun)
Jaminan perusahaan : Rp.- (syukur kalau ada)
Total Pendapatan : Rp. 14.000.000 (A)
Pengeluaran :
Biaya rumah tangga : Rp. 26.000.000 (B) (asumsi per tahun)
Surplus/ (defisit) :
Pendapatan – Pengeluaran : (Rp.12.000.000) (A – B)
Dari perhitungan di atas terlihat akan terjadi kekurangan untuk
menutupi biaya hidup keluarga Anda jika pendapatan Anda hilang,
sehingga harus dicari jalan bagaimana agar kekurangan tersebut dapat
dipenuhi. Berikut ini tiga hal yang perlu diperhitungkan dengan
teliti.
Pertama, proyeksikan kebutuhan dana/aset untuk menutupi kebutuhan
kekurangan (defisit) yang terjadi seperti contoh perhitungan diatas.
Sedikitnya ada dua cara untuk menghitung kebutuhan ini, yakni: cara
pertama, dengan menetapkan berapa lama dana tersebut dapat
menghidupi keluarga dengan tetap mempertahankan standar hidupnya.
Nilai ini bisa bervariasi jumlahnya, tetapi paling tidak kami
sarankan minimum 2 tahun. Hal ini dengan pemahaman bahwa dalam dua
tahun tersebut mereka dapat menyesuaikan diri atas perubahan-
perubahan yang terjadi akibat ‘kepergian’ tiang keluarga. Sebagai
contoh, jika Anda ingin mereka tetap mempertahankan gaya hidup yang
sama paling tidak dalam 5 tahun kedepan, maka Anda kalikan kekurangan
tersebut dengan 5 (Rp 12.000.000 x 5 = Rp 60.000.000);
Cara kedua, dengan menetapkan suatu jumlah dana dimana jika jumlah
tersebut diinvestasikan dapat memberikan pendapatan sebesar
kekurangan diatas tersebut. Contohnya, jika instrumen investasi yang
dipilih (sebaiknya Deposito) menghasilkan pendapatan bersih rata- rata
10% per tahun, maka Anda membutuhkan dana sebesar Rp. 120.000.000,
untuk mendapatkan kekurangan Rp. 12.000.000 pertahun (Rp. 120.000.000
x 10 % = Rp. 12.000.000, tanpa memperhitungkan soal pajak). Jadi, ada
dua nilai yang dapat Anda pertimbangkan untuk memenuhi kekurangan
akibat hilangnya pendapatan Anda yaitu Rp. 60.000.000 atau Rp.
120.000.000.
Kedua, perhitungkan hutang-hutang anda saat ini, baik yang bersifat
jangka pendek maupun jangka menengah-panjang. Perlu diingat bahwa
proyeksi kebutuhan dana/aset yang telah dihitung di atas hanya untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja. Jadi, hutang harus
diperhitungkan secara tersendiri agar dapat diselesaikan dengan baik
pada waktunya.
Contoh :
Hutang kartu kredit : Rp. 1.000.000
Hutang kredit kendaraan : Rp. 20.000.000
Hutang KPR : Rp. 50.000.000
Hutang bisnis : Rp. 50.000.000
Hutang lain-lain : Rp. –
Total hutang : Rp. 121.00.000
Ketiga, perhitungkan biaya membesarkan anak, terutama biaya
pendidikannya. Kalkulasi ini memerlukan perhitungan tersendiri,
karena menyangkut berbagai hal (jumlah anak, usia anak, dan
sebagainya). Namun, paling tidak Anda diingatkan bahwa hal ini juga
perlu diperhitungkan untuk dimasukkan ke dalam nilai pertanggungan
asuransi jiwa Anda. Untuk sementara kita asumsikan saja jumlahnya
sebesar Rp. 200.000.000.
Dengan contoh dan asumsi di atas, maka kebutuhan nilai proteksi anda
adalah:
Dana/asset untuk biaya hidup keluarga : Rp. 120.000.000
Dana untuk menutupi hutang : Rp. 121.000.000
Dana pendidikan anak : Rp. 200.000.000
Total : Rp. 441.000.000
Proteksi yg sudah dimiliki : Rp. –
Proteksi Yang masih dibutuhkan : Rp 441.000.000
Inilah jumlah Nilai Uang Pertanggungan yang dibutuhkan.
Bagi siapa saja yang penghasilan bulanan keluarganya (suami-istri)
kurang dari Rp 30 juta per tahun (Rp 2,5 juta per bulan), jumlah
tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: berapa besar premi yang
harus dibayar untuk memperoleh Uang Pertanggungan sebanyak itu dan
apakah akan mampu diupayakan?
Besarnya jumlah nilai proteksi atau uang pertanggungan yang harus
dipersiapkan tidak perlu sampai membuat anda distress (tertekan dan
cemas berlebihan), sepanjang anda ingat bahwa pada dasarnya asuransi
adalah sebuah perencanaan. Artinya, anda dapat merencanakan untuk
membeli asuransi jiwa dengan jumlah premi tertentu secara bertahap.
Urutan prioritasnya kami usulkan sebagai berikut: pertama, belilah
asuransi jiwa dengan jumlah uang pertanggungan (dan premi) yang bisa
menutupi seluruh hutang-hutang anda, agar sekurang-kurangnya anda
tidak mewariskan hutang kepada generasi berikutnya;
kedua, bila hutang-hutang sudah diamankan, maka belilah asuransi jiwa
berikutnya untuk mengamankan kebutuhan hidup keluarga sehari-hari
untuk rentang waktu tertentu, terhitung sejak anda meninggal dunia;
dan ketiga, pada tahap berikutnya, yakni jika anda telah berhasil
mengumpulkan sejumlah uang tambahan, belilah asuransi jiwa dengan
nilai pertanggungan yang bisa memenuhi biaya-biaya membesarkan anak-
anak anda, termasuk biaya pendidikannya. Jadi, meski tentu tidak
mudah mengaturnya, namun dengan perencanaan yang matang, hal di atas
tetap dimungkinkan (kecuali Tuhan berkehendak lain, tentu).
=====================
POJOK `PESAN’ (PEtuah Solusi KeuangAN) EUREKA

1. Keberhasilan membangun keluarga yang sebenarnya (sejati)
bukanlah terlihat pada saat anda masih bersama-sama mereka, akan
tetapi lebih pada saat anda sudah tidak lagi bersama-sama mereka.
2. Sebesar apapun beban finansial yang harus dipikul, akan lebih
mudah diselesaikan apabila melalui perencanaan dan biasanya dimulai
dari langkah-langkah kecil yang setia.
3. Dalam hal mencukupi kebutuhan finansial keluarga, lebih baik
menyesal pada saat masih dapat memperjuangkannya, dari pada menyesal
pada saat sudah tidak mungkin lagi mengusahakannya.
4. Seringkali orang terlalu besar mengharapkan orang lain
membantu menetapkan dan mengatur instrumen keuangan bagi diri dan
keluarganya, tetapi sebenarnya dirinyalah yang paling tahu dan harus
menentukan sendiri.
5. Merancang asuransi keluarga adalah sebuah perencanaan yang
memerlukan ketekunan dan kesungguhan yang akan membuktikan seberapa
dalam tanggungjawab dan kecintaan pada keluarga.
6. Tidak ada seorangpun karena kekuatirannya akan dapat menambah
sehasta saja jalan hidupnya, karena itu hadapilah kekuatiran itu
dengan langkah-langkah terencana, tekun dan bersungguh-sungguh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: