MENGATASI BIAS PSIKOLOGIS DALAM BERINVESTASI

Apakah anda termasuk pengemudi mobil yang lebih baik dari
rata-rata, samadengan rata-rata, ataukah lebih buruk dari rata- rata
pengemudi mobil ? Pertanyaan ini telah sering ditanyakan dalam
percobaan psikologis. Hasilnya, hampir semua orang menjawab bahwa
dirinya lebih baik dari rata-rata ! Tentu saja hal itu mustahil,
karena seharusnya hanya sekitar 1/3 dari total populasi yang menjadi
lebih baik dari rata-rata, 1/3 rata-rata, dan 1/3 di bawah rata- rata.
Bisa psikologis semacam itu banyak melanda keputusan manusia. Ini
adalah satu dari sekian banyak contoh bias keputusan yang dibahas
dalam buku ini.
Setiap individu berkembang dengan memiliki prilaku psikologi yang
berbeda-beda yang mengakibatkan kita melakukan suatu tindakan
tertentu terhadap suatu kejadian. Prilaku ini mempengaruhi cara kita
menyaring informasi yang kita dapat setiap harinya. Prilaku tersebut
juga memberikan pengaruh terhadap cara kita menggunakan serta
mengartikan informasi tersebut dalam mengambil keputusan. Kalau
prilaku emosi yang salah terbawa dalam keputusan investasi dampaknya
bisa sangat negatif terhadap kekayaan kita.
Kebanyakan model teoritis tradisional dalam buku keuangan dan
investasi standar di perguruan tinggi dilandasi oleh dua asumsi dasar:
§ Setiap orang membuat keputusan yang rasional
§ Setiap orang tidak bias dalam memprediksi masa depan.
Akan tetapi para psikolog sudah mengetahui sejak lama bahwa asumsi
ini tidak benar. Seringkali individu berprilaku tak rasional dan
membuat kesalahan sistematis atas peramalan yang mereka lakukan.
Sekarang ini para ekonom keuangan menyadari bahwa individu
dapat mengambil keputusan yang tak rasional. Pengertian yang salah
terhadap informasi akan mempengaruhi hasil investasi yang pada
akhirnya mempengaruhi kekayaan yang dimiliki investor. Walau sudah
menjadi pakar dalam teori dari buku-buku ajar investasi modern,
investor akan tetap gagal dalam berinvestasi apabila keputusan yang
diambil masih sangat dipengaruhi oleh bias psikologis.
Buku ini memberikan penjelasan mengenai berbagai bentuk bias
psikologis serta pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan dan
menunjukkan mekanisme pengaruh bias-bias terhadap keputusan
investasi, serta dampak negatifnya terhadap kekayaan investor.
Selanjutnya, setelah memahami bias ini, kita diberikan tips cara
mengenalinya dan menghindari bias-bias tersebut dalam kehidupan kita.
Pemakaian ilustrasi kejadian umum yang biasa terjadi sehari-hari
mempermudah pemahaman mengenai berbagai bias psikologis yang
mempengaruhi prilaku investasi.
Bagian pertama dimulai dengan sebuah pertanyaan “should I
read this book now, or later?” (haruskah saya membaca buku ini
sekarang atau nanti?). Banyak orang selalu menunda-nunda untuk
melakukan suatu hal yang menurut mereka dapat dilakukan di waktu yang
akan datang, walau di masa datang akan memakan waktu yang lebih
panjang untuk penyelesaiannya atau pencapaiannya. Penundaan
pengambilan keputusan merupakan penyakit kronis yang banyak terjadi.
Terdapat 5 bagian dalam buku ini. Pada 3 bagian pertama
diberikan ilustrasi berbagai bias psikologis yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari. Bagian ke-4 menjelaskan dampak internet yang
memperburuk problem psikologis ini. Akhirnya bagian ke-5,
menggambarkan serta menjelaskan kiat bagi investor untuk dapat
membantu dirinya dalam mengatasi pengaruh psikologis dalam
pengambilan keputusan investasi.
Tema besar dalam bagian pertama adalah mengenai kesalahan
umum “Not thinking clearly” (tidak berpikir jernih). Dalam
pembahasannya, John R. Nofsinger menjabarkan tentang kecepatan serta
ketersedian informasi yang semakin mudah didapat oleh semua golongan
investor baik pemula maupun yang sudah berpengalaman melalui
internet. Karena kurangnya pengalaman serta training, investor
individual sering salah dalam mengartikan atau menginterpretasikan
informasi yang diperoleh (illusion of knowledge). Selanjutnya ada
ilusi kendali (illusion of control). Penelitian psikologi menunjukkan
bahwa orang yang melempar sendiri koin cenderung lebih yakin bahwa
dirinya bisa mempengaruhi hasil pelemparan koin (yang menghadap ke
atas itu sisi muka atau sisi belakang).
Di masa lalu banyak investor mempercayakan dananya kepada salah satu
institusi keuangan, dan keputusan menempatkan investasi diambil oleh
manajer investasi profesional. Sekarang, investor lebih memilih untuk
mengambil keputusan sendiri berdasarkan interpretasi yang diyakininya
benar. Semakin sering atau aktif investor dalam mengambil keputusan
akan semakin tinggi kejadian illusion of control.
Kedua ilusi ini merupakan penyebab utama mengapa investor individu
merasa percaya diri secara berlebihan atau overconfidence. Rasa
percaya diri yang berlebih dapat mengakibatkan meningkatnya volume
transaksi dan sehingga investor menanggung risiko lebih besar dan
mengakibatkan kerugian yang besar terhadap investasinya. Penelitian
Barber dan Odean menganalisis hubungan antara tingkat turnover
(perputaran atau transaksi) dengan tingkat pengembalian (return).
Dari hasil penelitian tersebut, Barber dan Odean mendapatkan bahwa
investor dengan tingkat turnover yang tinggi hanya menghasilkan
keuntungan bersih sebesar 11.4%. Sedangkan investor dengan tingkat
turnover yang rendah mendapatkan rata-rata keuntungan bersih 18,5%
(halaman 26-27). Barber dan odean juga mendapatkan hasil bahwa pria
bujangan memiliki tingkat risiko portofolio tertinggi diikuti oleh
pria yang sudah menikah, wanita yang sudah menikah dan terakhir
wanita bujangan.
Emosi atau kekuatan bias psikologi dapat membuat investor mengabaikan
hal-hal jelek mengenai sesuatu yang telah dikenal dan diketahuinya
secara emosional. Misal saja, secara emosi kita sangat dekat dengan
keluarga kita sehingga bila salah satu melakukan kesalahan maka
sering kali kita mengabaikannya. Perasaan bahwa investor sangat
mengetahui suatu saham atau keterikatan secara emosional terhadap
sesuatu saham dapat megakibatkan investor tidak melakukan perubahan
walau perusahaan tersebut mengalami kesulitan. Tambahan pula, tingkat
keyakinan investor sebelumnya ketika saham itu sangat baik dapat
lebih menguatkan investor untuk menunda keputusan atau tidak
melakukan apapun terhadap informasi yang didapat (status quo bias).
Orang cenderung menghindari segala sesuatu yang mengakibatkan
penyesalan (regret) dan mencari sesuatu yang membanggakan (pride).
Penyesalan adalah rasa sakit secara emosional yang diakibatkan oleh
keputusan buruk sebelumnya. Sedangkan kebanggaan atau pride adalah
rasa senang secara emosi yang terjadi akibat keputusan yang diambil
menguntungkan. Keinginan setiap individu untuk merasakan kesenangan –
mencari kebanggaan atau seeking pride- mengakibatkan investor menjual
terlalu dini investasinya yang untung. Sebaliknya kecenderungan
penghindaran penyesalan mengakibatkan investor menunda terlalu lama
penjualan investasi yang merugi. Penelitian ini dilakukan atas 75,000
investor yang membeli serta kemudian diikuti dengan transaksi jual.
Hasilnya adalah investor akan lebih cepat menjual sahamnya apabila
mendapatkan keuntungan. (hal. 49-50). Apabila investor membeli saham
dan dengan cepat harganya naik, kenaikan ini akan menimbulkan
keinginan investor untuk menjual dan mendapatkan keuntungannya dengan
cepat. sehingga dapat mengabarkan berita ini kepada teman, saudara
dan kerabat lainnya. Sebaliknya, bila investor membeli saham dan
dalam waktu singkat harganya turun dengan cepat, investor akan
menunggu dengan harapan saham tersebut akan naik kembali di waktu
yang akan datang.
Perkembangan teknologi khusunya internet mengakibatkan
perubahan cara orang berkomunikasi, berbelanja, melakukan bisnis dan
menerima atau mengirin informasi atau pengumuman. Lebih jauh lagi
internet merubah cara orang berinvestasi. Internet memberikan
berbagai kentungan bagi investor, antara lain kemudahan akses
bertransaksi, serta mempercepat distribusi informasi sampai kepada
investor. Bagian keempat yaitu “Investing and the Internet,”
memaparkan interaksi antara internet, psikologi, dan investasi.
Kecepatan serta keberadaan informasi tanpa batas kepada investor
lebih memperburuk tingkat bias psikologis terutama dalam
hal “illusion of knowledge” dan “illusion of control” yang
mengakibatkan investor merasa terlalu percaya diri atau
overconfidence.
Bagian akhir buku ini bertema “What Can I Do About It?”
menjelaskan kiat investor untuk menghindari berbagai bias psikologis
yang mempengaruhi pengambilan keputusan investasi. Sulitnya
mempertahankan self-control dalam hal bias psikologis diillustrasikan
pada bab 14. Sedangkan bab terakhir menjelaskan perencanaan, dorongan
serta rule of thumb atau aturan umum yang dapat menolong Anda dalam
menghindari berbagai bias psikologis yang biasa terjadi.
Pelajaran penting dari buku ini adalah bahwa pengetahuan akan
berbagai aspek mengenai saham tidak menjamin keberhasilan bila
keputusan investasi. Pelajaran ini sejalan dengan pendapat Jake
Bernstein dalam buku terlaris Investor’s Quotient bahwa kecerdasan
finansial hanya 10% tergantung dari pengetahuan dan 90% tergantung
dari kebiasaan. Secara keseluruhan buku ini akan sangat menarik bagi
semua kalangan investor baik pemula maupun yang `merasa’ sudah
berpengalaman. Perspektif baru dalam berinvestasi dengan tidak
mengabaikan aspek emosi atau aspek psikologis yang dijelaskan dalam
buku ini juga akan sangat berguna bagi manajer investasi profesional
dan merupakan bahan penelitian menarik bagi para akademisi psikologi
maupun keuangan/investasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: