Membangun Hubungan dari Hati

Kamis, 04 September 2003
Oleh : Pri Notowidigdo

Bagi Anda, sebetulnya apa makna membangun hubungan (relationship)? Dan apakah hubungan itu merefleksikan value Anda?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengganggu pikiran saya beberapa hari lalu dalam dua kejadian. Pertama, seorang kandidat yang saya tempatkan pada perusahaan klien saya lima tahun lalu, tiba-tiba menelepon dan minta pertolongan dicarikan pekerjaan lain. Di telepon, dia benar-benar agresif dan mengatakan bahwa karena hubungan kami, saya harus mencarikannya pekerjaan baru. Padahal, saat saya menempatkannya, dia tak sedikit pun mengetahui sesungguhnya apa peran saya. Bahkan, dia tidak pernah menelepon sekali pun sejak itu.

Kejadian kedua, seorang kandidat yang pernah kerap meneror melalui telepon, kembali menghubungi dan merasa kecewa terhadap saya, karena tak memberinya pekerjaan setelah lewat satu bulan. Saya menghabiskan dua jam lebih untuk menasihati berikut membantunya menolong diri sendiri. Sayang, dia memilih bergantung pada saya untuk membuat suatu keajaiban dan memberinya pekerjaan.

Menurut Anda, bagaimana perasaan saya? Bagaimana juga perasaan Anda bila berada di posisi saya saat itu?

Saya bertanya dalam hati: Bagaimana sebaiknya memandang hubungan dalam bisnis? Bisakah dibedakan antara hubungan bisnis dan hubungan pribadi? Apakah keduanya benar-benar sama?

Dalam upaya mengatasi pertanyaan-pertanyaan ini, saya teringat David Maister, guru professional services, yang sangat ramah dan fair. David menyatakan bahwa kita harus menemukan suatu dasar yang sama dalam membangun hubungan. Dia menekankan, membangun hubungan yang kokoh berarti Anda mencoba mengerti, penuh perhatian, baik hati, sensitif pada perasaan, dan mendukung.

Menurutnya, prinsip-prinsip utama dalam membangun hubungan, tak terbatas pada kehidupan pribadi, tapi juga bisnis. Di antaranya, (1) pergi dulu (go first); (2) illustrate, don’t tell; (3) dengarkan untuk apa yang berbeda, bukan untuk apa yang familiar; (4) yakinkan bahwa nasihat Andalah yang dicari; (5) dapatkan hak memberi nasihat, (6) katakan apa yang Anda maksud; (7) ketika Anda butuh bantuan, mintalah; (8) tunjukkan perhatian pada orang yang dituju, gunakan pujian bukan rayuan; dan (9) tunjukkan rasa menghargai.

Anda memang harus pergi dulu, menjadi yang pertama berinvestasi dalam hubungan yang dibangun. Jangan takut risiko ditolak. Ingatlah ketika sedang menyenangkan istri atau suami, dan risiko yang diambil agar hubungan terus berlanjut.

Illustrate, don’t tell. Untuk membuat orang lain percaya sesuatu mengenai Anda, tunjukkanlah sesuatu, bukan hanya berkata-kata. Ciptakan juga aneka kesempatan untuk menunjukkan bahwa Anda memiliki sesuatu yang bisa disumbangkan. Dalam wawancara kepegawaian, tunjukkan bahwa Anda telah melakukan pencarian (research) tentang perusahaan itu, menekankan beberapa aspek yang spesifik tentang perusahaan, menunjukkan ketertarikan, due diligence Anda, dan tentunya, potensi dalam berkontribusi buat organisasi.

Dengarkan untuk apa yang berbeda dan bukan untuk apa yang familiar. Sebelum dapat membantu orang lain, pahamilah pemikirannya. Duduklah, dan dengarkan tanpa gangguan. Ciptakan situasi sehingga mereka akan mengatakan lebih banyak tentang isu, kecemasan dan kebutuhannya. Hanya dengan mendapat lebih banyak informasi individuallah Anda dapat memutuskan menginginkan suatu hubungan ataukah tidak.
Yakinkan bahwa nasihat Andalah yang dicari. Bila seseorang mulai mengatakan masalahnya, jangan cepat berasumsi dia mencari solusinya pada Anda. Sebab, mungkin saja hanya mencari simpati, dukungan emosi, pengertian terhadap kesulitan yang dihadapi, sekaligus berbicara tanpa situasi yang mengancam. Maklum, setiap orang menginginkan afirmasi, persetujuan, dukungan dan penghargaan.

Dapatkan hak memberi nasihat. Pada beberapa orang, ada tendensi untuk mendapat jawaban secara buru-buru (rush) karena waktu sangatlah penting. Cara terbaik, tunjukkan bahwa kita mengerti situasinya. Tunjukkan juga bahwa kita mengerti bagaimana perasaannya.

Katakan apa yang Anda maksud. Ingat selalu, komunikasi adalah apa yang dimengerti, bukan apa yang dikatakan. Sangatlah penting dalam pekerjaan untuk meyakinkan bahwa apa yang hendak Anda katakan adalah benar- benar terdengar seperti apa yang Anda maksudkan.

Bila Anda butuh bantuan, mintalah. Mintalah bantuan daripada menuntut bantuan. Menuntut biasanya menunjukkan kekecilan hati, sementara meminta bantuan menghasilkan jawaban yang positif. Menarik dicatat, ternyata kita lebih sering mengecilkan hati (resent) orang-orang yang pernah membantu kita dan orang-orang yang padanya kita berutang kewajiban.

Tunjukkan perhatian pada orang yang dituju. Mintalah orang menceritakan dirinya. Ini adalah cara belajar sebanyak mungkin tentang dirinya, sehingga Anda dapat menemukan strategi yang tepat untuk mengatakan sesuatu yang kelak membuatnya sudi mendengarkan Anda. Kendati begitu, mesti diingat, ada perbedaan antara bersikap sopan dan menjadi tertarik. Orang lain akan merasakannya.

Karena itu, gunakan pujian, bukan rayuan. Hanya mengatakan, Anda pandai, dapat menimbulkan kurangnya kredibilitas. Di sini, menjadi lebih spesifik lebih baik. Contoh, Saya percaya Anda adalah seorang pemimpin yang efektif karena saya mendengar bagaimana orang bicara tentang Anda bila Anda tidak di tempat, dan saya melihat perubahan-perubahan di mana orang- orang Anda melakukan beberapa hal tertentu.

Tunjukkan rasa menghargai. Setiap orang ingin dihargai. Mengekspresikan apresiasi Anda pada seseorang membuat hubungan terus berlanjut erat.

Jadi, bila ingin menjamin hubungan dari hati, ingatlah prinsip-prinsip di atas.

Senior Partner The Amrop Hever Group, Global Executive Search. (swa)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: