Ayam Bakar Wong Solo Go International

BISNIS rumah makan sangat menggiurkan. Banyak yang menyebut bisnis itu banyak mendatagkan keuntungan, namun risikonya juga tidak kecil.

Dibutuhkan kerja keras, keuletan, dan waktu cukup panjang untuk memperoleh nama sekaligus mengumpulkan pelanggan.

Berbagai aspek tersebut diperhatikan betul oleh Puspo Wardoyo (47), pemilik jaringan RM Ayam Bakar Wong Solo.

Bisnis yang dia mulai tahun 1991 dengan modal Rp 700 ribu itu kini omzetnya telah mendekati Rp 60 miliar per tahun. Harus diakui, itu sungguh prestasi yang amat gemilang. Rumah makan yang semula didirikan di Medan sekarang telah merambah kota-kota besar di berbagai daerah Indonesia.

Di Medan saat ini ada tiga gerai. Kemudian berkembang ke Padang, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Purwokerto, Semarang, Ungaran, Salatiga, Yogyakarta, Bali, Solo, Sragen, Sidoarjo, Surabaya, Malang, Jember, Balikpapan, dan Makassar. Di Jakarta bahkan ada 17 gerai.

Awal tahun 2005 rumah makan itu akan merambah negara tetangga melalui pembukaan gerai di Kualalumpur, Malaysia. Masih dalam proses survei pendirian gerai adalah di Jeddah, Arab Saudi.

”Obsesi saya memang RM Ayam Bakar Wong Solo harus go international,” tegasnya ketika ditemui di gerai Jalan Slamet Riyadi Solo, baru-baru ini.

Dari 43 gerai yang dikelola sendiri 16, sedangkan sisanya menerapkan sistem waralaba (franchise). Dengan sistem itu dia memperoleh 40% dari seluruh keuntungan bersih dan partnernya 50%. Sisa 10% dianggarkan untuk infaq fi sabilillah.

Makin Banyak

Ketika memulai bisnis Puspo sendiri yang bertindak sebagai koki. Di sebuah warung kontrakan seluas 8×4 m2 di Kota Medan selama beberapa bulan awal hanya mampu menjual satu dua ekor ayam per hari. Namun lama-kelamaan pelanggannya makin banyak.

Makin banyak pelanggan, kian banyak pula ayam yang dibutuhkan. Dari semula hanya puluhan ekor lalu meningkat menjadi ratusan ekor.

Kini setiap hari seluruh gerainya membutuhkan sekitar 15 ribu ekor ayam. Menu pun ditambah. Jika semula hanya ayam bakar, maka atas permintaan pelanggan disuguhkan pula ayam goreng.

Sekarang menu yang disajikan jumlahnya sekitar 50 jenis. Bukan lagi hanya masakan berbahan baku ayam, melainkan menyuguhkan pula aneka masakan dari ikan laut, daging sapi dan kambing, serta berjenis-jenis sayur.

Puspo Wardoyo, kelahiran Kota Solo, mewarisi keahlian memasak dari ibunya yang mempunyai warung ayam goreng, sedangkan ayahnya pedagang ayam.

Sebagai anak pemilik warung dari kecil hingga duduk di bangku perguruan tinggi ia bekerja keras membantu orang tuanya. (Subakti A Sidik-53)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: