Sekolah Lagi: Inikah Saat yang Tepat?

Jika ingin meraih sukses yang berkelanjutan, menambah pengetahuan
dan keterampilan sangatlah penting bagi kita semua apa pun bidang
yang kita tekuni. Walaupun kita sudah memiliki banyak pengetahuan
dan keterampilan yang telah dipupuk selama bertahun-tahun bekerja di
lapangan, pengetahuan baru, keterampilan baru, teknologi baru, ide-
ide baru, pendekatan-pendekatan baru akan selalu muncul.

Agar tidak ketinggalan kereta, senantiasa meningkatkan diri bukan
lagi merupakan pilihan, melainkan sudah merupakan keharusan. Salah
satu alternatif dari peningkatan pengetahuan dan keterampilan adalah
kembali ke bangku sekolah, karena di sinilah ide-ide baru muncul,
konsep-konsep baru dibahas, dan teknik-teknik baru diperkenalkan.
Untuk memasuki dunia sekolah yang sudah lama ditinggalkan, tentunya
kita perlu persiapan, pengetahuan dan strategi khusus, agar kembali
ke sekolah menjadi lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Mengapa kembali ke sekolah?
Mungkin sekarang kita sudah yakin bahwa belajar merupakan keharusan.
Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah sekarang saat yang tepat untuk
kembali ke sekolah?
Pengangguran. Beberapa waktu yang lalu, 10.000 pencari kerja
memadati gedung Jakarta Convention Center yang menggerai bursa kerja
dengan menawarkan sekitar 4.000 kesempatan kerja. Pastilah ada
sekitar 6.000 orang (60%) yang tidak kebagian “kue” kesempatan
kerja. Sekitar 4.000 yang terpilih dari event ini tentunya
memiliki “nilai tambah” (keterampilan dan pengetahuan tambahan) yang
tidak dimiliki pencari kerja lainnya. Nah, jika kita tidak
meningkatkan diri, pada saat kesempatan yang sama ada di depan mata,
akan sulit bagi kita untuk meraih sukses.

Persaingan. Dengan masih merangkaknya perekonomian Indonesia saat
ini, pertumbuhan ketersediaan kesempatan kerja tidak sebanding
dengan pertumbuhan jumlah pencari kerja. Selain pengangguran, dampak
lainnya adalah persaingan yang semakin ketat di antara pencari
kerja, bahkan di antara mereka yang ingin mempertahankan pekerjaan.
Kondisi ini lebih diperburuk lagi dengan dibukanya “jalan tol” bagi
arus lalu lintas tenaga kerja regional, bahkan internasional.
Tingkat pendidikan yang rendah, dan pengetahuan serta keterampilan
yang minim dapat dengan mudah membuat kita tersingkir dari
persaingan di dunia kerja. Untuk tetap berada di arena dunia kerja,
mereka yang berbekal cukupun (tingkat pendidikan, pengetahuan, dan
keterampilan yang cukup) harus berbenah diri dengan meningkatkan
pendidikan dan menambah pengetahuan serta keterampilan agar bisa
tetap eksis apalagi untuk tetap meraih sukses.

Dinamika dunia bisnis. Teknologi informasi telah merevolusi dunia
bisnis di segala aspek. Untuk tetap mengikuti perkembangan teknologi
informasi yang cepat saja kita tidak bisa tinggal diam, kita harus
selalu mengejar ilmu-ilmu baru. Tidak heran jika seringkali seorang
pegawai senior dapat “didahului” dalam karier dan tingkat gaji oleh
pegawai baru. Jadi, untuk tetap berkiprah, dan meraih sukses
berkelanjutan di dunia bisnis yang penuh dinamika, kembali ke
sekolah bisa merupakan salah satu pilihan yang perlu diprioritaskan.

Langkah apa yang perlu diambil?
Agar kembali ke sekolah bisa menunjang sukses, ada beberapa langkah
penting yang perlu kita ambil.

Tentukan tujuan pendidikan. Sebelum memulai suatu perjalanan,
biasanya kita sudah punya tujuan. Demikian juga dengan upaya kembali
ke sekolah, tujuan pendidikan perlu kita tentukan agar semua sumber
daya yang kita miliki dapat kita gunakan dengan baik untuk meraih
tujuan tersebut. Apakah kita ingin melanjutkan pendidikan untuk
menunjang karier sekarang? Apakah pendidikan yang akan kita ambil
nantinya dapat membantu kita mempertahankan bisnis yang sedang kita
bangun atau bahkan membantu kita untuk membangun bisnis baru?
Ataukah keinginan melanjutkan pendidikan ini ditujukan untuk
mengubah jalur karier? Apa pun tujuan yang kita tentukan, haruslah
realistis dan dapat kita pahami dengan jelas. Jika tujuan pendidikan
sudah Anda tentukan, akan lebih mudah bagi Anda untuk memilih jenis
pendidikan yang tepat untuk Anda.
Misalnya, Junita yang sudah enam bulan diangkat sebagai seorang
pengelola cabang di sebuah lembaga pendidikan non-formal. Junita
yang lulusan S1 jurusan Sastra Inggris merasa perlu mendalami
manajemen pendidikan untuk membantunya meraih sukses di posisi yang
sekarang ia tekuni. Inilah tujuan pendidikan yang ditentukan Junita:
menambah ilmu dan keterampilan dalam mengelola sebuah lembaga
pendidikan.

Kenali kondisi kita dengan baik. Langkah selanjutnya (sebelum
memilih sekolah yang tepat) adalah mengenali diri kita dengan baik:
kelemahan dan kekuatan kita. Kita perlu mengidentifikasikan
kelemahan dan kekuatan kita agar dapat menyusun strategi yang
efektif untuk belajar dan menyelesaikan pendidikan dengan efektif.
Jika kita lemah di suatu bidang tertentu, tentu kita perlu
mempersiapkan diri lebih serius di bidang tersebut. Untuk bidang-
bidang yang telah kita kuasai dengan baik, kita bisa
mengajukan “waiver” pada universitas yang kita tuju agar kita tidak
perlu mengambil mata kuliah yang sama (tentunya hal ini akan
menghemat biaya dan waktu). Kita juga perlu mengidentifkasikan minat
kita, yaitu subyek-subyek yang kita senangi dan subyek-subyek yang
kurang menarik perhatian kita. Aspek lain yang perlu kita kenali
juga adalah pendanaan: sejauh mana kita mampu membiayai pendidikan
tersebut. Jika kita tidak memiliki sumber dana yang cukup, kita bisa
memilih alternatif lain, misalnya pinjaman lunak, atau jika mungkin
pinjaman tanpa bunga (dari kantor, bank, teman baik, keluarga, atau
kerabat), dan beasiswa. Pertimbangan-pertimbangan ini akan membantu
kita dalam menentukan jurusan ataupun konsentrasi pendidikan yang
akan kita ambil.
Sebagai contoh, masih kita ambil kasus Junita di atas. Ternyata,
Junita merasa bahwa ia sangat lemah di bidang matematika dan
statistika. Iapun “berguru” pada teman-teman yang dianggap memiliki
kekuatan di bidang ini untuk membantunya mempersiapkan diri
mengambil Test Potensi Akademik yang dipersyaratkan. Junita merasa
bahwa ia sudah memiliki banyak pengalaman di bidang kebahasaan dan
akses untuk peningkatan ilmu di bidang ini juga terbuka luas di
tempat ia bekerja sekarang. Yang sekarang menjadi kebutuhannya
adalah pengetahuan dan keterampilan mengelola sumber daya manusia,
yang juga menjadi minat Junita. Pertimbangan-pertimbangan ini
membawa Junita kepada keputusan untuk memilih sekolah magister
manajemen dengan konsentrasi pada sumber daya manusia.

Pilih sekolah yang tepat. Sekolah yang tepat tidak harus merupakan
sekolah yang termahal ataupun sekolah yang paling terkenal,
melainkan sekolah yang sesuai dengan kondisi kita (baik kemampuan
akademis maupun keuangan), dapat memenuhi kebutuhan karier kita dan
dapat membawa kita meraih tujuan pendidikan yang telah kita tetapkan
sebelumnya. Faktor-faktor yang lain yang tidak kalah pentingnya
untuk diperhatikan dalam pemilihan sekolah yang tepat adalah status
sekolah (akreditasi yang diperoleh), lokasi sekolah, kualitas tenaga
pengajar, fakultas dan konsentrasi yang ditawarkan, serta fasilitas
yang tersedia.
Untuk langkah ketiga ini, Junita memilih sekolah yang ditunjuk oleh
perusahaannya yang telah bersedia memberikannya beasiswa karena
memang sesuai dengan bidang kerja yang sekarang ia tekuni. Sekolah
ini memiliki akreditasi dari pemerintah, dan lokasinya pun tidak
terlalu jauh dari tempat Junita bekerja. Sekolah ini juga menawarkan
konsentrasi sumber daya manusia yang menjadi minat Junita. Selain
itu, beberapa rekan sekerja Junita juga pada saat ini sedang
menyelesaikan pendidikan di sekolah ini, sehingga akan lebih mudah
baginya untuk mencari teman diskusi dengan kondisi kerja yang
serupa.

Buat Perencanaan Akademis. Perencanaan ini perlu dibuat untuk
mempermudah pemilihan mata kuliah yang harus diambil, jumlah kredit
yang harus dikumpulkan, dan topik ataupun judul karya akhir yang
akan diselesaikan. Untuk rencana akademis ini, kita bisa
mengkonsultasikannya pada dosen pembimbing, ataupun penasihat
akademis yang ditunjuk. Jika pada awal kuliah belum ada penasihat
akademis yang ditunjuk, kita bisa bertanya pada dosen yang bisa
membantu kita, pada senior kita di kampus, ataupun pada atasan kita
untuk memberi masukan yang bisa kita pertimbangkan.
Junita bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengelola sumber daya
manusia di cabang yang ia pimpin. Tujuan ini ia konsultasikan pada
sang dosen pembimbing di sekolah yang telah ia pilih. Sang
pembimbing menganjurkan agar Junita memfokuskan tugas, makalah, dan
kasus-kasus yang nantinya harus ia kerjakan pada permasalahan yang
menjadi minatnya. Strategi ini akan membantu Junita dalam “menyicil”
karya akhir yang harus ia buat nantinya.

“Time management”. Agar kuliah, keluarga, dan kerja bisa berjalan
harmonis, perlu pengaturan waktu yang baik. Sebelum kuliah berjalan,
kita perlu memetakan waktu kerja, keluarga, dan sekolah dengan
komposisi yang disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan kita.
Sedangkan ketika kuliah sudah berjalan, setiap minggu ada baiknya
jika kita juga memetakan tugas-tugas kantor, tugas-tugas kuliah,
serta waktu untuk keluarga (agar semua kegiatan kita mendapat
perhatian yang tepat).
Sebelum kuliah berjalan, Junita menanyakan kepada pihak perusahaan,
sejauh mana perusahaan bisa memberikan kelonggaran bagi Junita untuk
menunjang pendidikannya. Jika kuliah di mulai jam 5, dan kerja
selesai jam 5, tentunya akan sulit bagi Junita untuk datang tepat
waktu ke tempat kuliah. Junita meminta izin kepada atasannya untuk
membebaskan Junita lebih awal pada Senin, Rabu, dan Jumat, yakni
hari-hari ia harus kuliah. Setiap minggu, Junita juga membuat jadwal
kegiatannya yang mencakup kegiatan kantor, kuliah, dan keluarga,
sehingga ia bisa berusaha sebaik mungkin menyeimbangkan ketiga dunia
kegiatan tersebut. Dalam menyusun jadwal, Junita memperhatikan
prioritas-prioritas yang telah ditetapkannya. Bisa saja pada minggu
ini, prioritas adalah pada kerja, karena ada proyek yang jatuh
tempo, sedangkan pada minggu berikutnya, prioritas adalah pada
kuliah, karena ada ujian tengah semester, sedangkan pada minggu yang
selanjutnya, prioritas pada keluarga karena anak-anak sedang liburan.

Adakah alternatif lain?
Sekolah formal adalah salah satu cara untuk menambah ilmu dan
keterampilan. Ada banyak alternatif lain yang bisa kita lirik untuk
meningkatkan diri, jika ternyata sekolah formal belum merupakan
pilihan, ada banyak “sekolah alternatif” yang bisa kita jajaki,
antara lain adalah kursus singkat di bidang yang kita minati,
pelatihan pendek di bidang baru yang belum kita ketahui, ataupun
sekolah jarak jauh alias universitas terbuka. Alternatif lain yang
juga tidak kalah menariknya adalah ikut menjadi anggota organisasi
profesi ataupun klub-klub yang menawarkan diskusi untuk topik-topik
yang kita minati. Untuk alternatif-alternatif ini, kita bisa coba
cari di internet, tanya pada teman-teman seprofesi, mencari
informasi dari brosur ataupun buku-buku panduan yang bisa kita
dapatkan dari perusahaan penyelenggara. Kita juga bisa mencoba untuk
mendidik diri sendiri dengan membaca buku, majalah, jurnal ilmiah,
artikel, berdiskusi dengan para pakar, ataupun menulis tentang topik-
topik yang kita minati. Jadi ada banyak cara untuk kembali
ke “sekolah”.
Yang terpenting dari semuanya adalah keinginan untuk selalu
meningkatkan diri. Untuk melakukan yang satu ini dengan sukses kita
perlu menumbuhkan antusiasme dalam belajar, sehingga belajar menjadi
lebih mudah, dan lebih menyenangkan. Selamat berjuang untuk kembali
ke “sekolah”!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: