BELANJA PINTAR DENGAN KARTU DEBIT


Oleh: Eko Endarto

(www.perencanakeuan gan.com)

Dikutip dari Tabloid Bisnis Indonesia Minggu

Sambil menggaruk kepalanya Ani berpikir keras. “Kalau belanja ke mal berarti tidak menabung. Tapi kalau menabung berarti tidak belanja ke mal. Mana ya yang sebaiknya dipilih?”

“Sebaiknya menabung aja, tapi menabungnya di mal,” pikir Ani.

Mungkin Anda pernah mengalami masalah yang sama. Mau belanja, merasa berdosa karena bulan ini belum menabung. Mau menabung ada sale di mal yang tidak mungkin dilewatkan. Kalau ini masalahnya, mungkin tawaran BII bisa menjawab kegundahan Anda.

Sambil Menabung

Mungkin produk ini adalah salah satu yang cukup unik saat ini. Dengan berbelanja maka uang yang Anda keluarkan itu otomatis juga akan ditabungkan kembali oleh BII.

Produk ini merupakan salah satu layanan paling gres dari BII, satu dari 10 bank swasta besar di Tanah Air.

Sebagai salah satu bentuk produk layanan, Belanja sambil Menabung memang cukup unik. Untuk Anda yang memiliki kartu debit BII, baik itu reguler maupun gold dan platinum, memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas ini. Untuk Anda pemegang kartu reguler, tiap pembelanjaan yang Anda lakukan, maka tiga digit atau tiga urutan angka dibelakang pembelanjaan menjadi hak Anda yang akan dikreditkan kembali ke rekening Anda.

Misalnya Anda berbelanja Rp125.500, maka uang Rp500 akan menjadi hak Anda dan dikembalikan ke rekening Anda. Bahkan, untuk mereka yang memegang kartu gold dan platinum, angka yang akan dikreditkan malah lebih besar yaitu empat digit. Seperti kasus di atas, maka besarnya hak Anda dari pembelanjaan yang Anda lakukan adalah sebesar Rp5.500.

Mungkin Anda akan berkata, “sedikit banget tuh uang.” Tampaknya sedikit, tapi coba bayangkan berapa kali Anda berbelanja tiap bulan. Setiap orang umumnya berbelanja 10 kali dalam sebulan. Tidak harus belanja kebutuhan rumah, makan di restoran, membeli pakaian, kebutuhan kendaraan dan lainnya.

Satu lagi kelebihan dari layanan ini adalah tidak terdapatnya aturan pembelanjaan minimal untuk mendapatkan fasilitas ini. Jadi, kalau Anda berbelanja Rp1.990 dengan kartu debit, maka uang senilai Rp990 menjadi milik Anda, lebih dari 90% nilai pembelanjaan.

Satu lagi kelebihan produk BII ini dibandingkan dengan produk lain (seperti cash back) adalah Anda menggunakan uang Anda untuk berbelanja karena diambil dari tabungan Anda. Bandingkan dengan produk lain seperti kartu kredit, cash back diberikan untuk utang yang Anda ambil. Jadi untuk apa dikembalikan kalau nantinya juga akan dikenakan bunga.

Harus Pintar

Memang dibalik semua tawaran manis tadi ada syarat yang harus Anda miliki sebelum bisa menikmatinya. Saldo tabungan yang Anda miliki setelah berbelanja harus memenuhi jumlah minimal Rp10 juta untuk jenis kartu regular dan Rp25 juta untuk kartu gold dan platinum.

Juga ada syarat lain yaitu maksimal besarnya nominal uang yang bisa ditabungkan adalah Rp100.000 untuk kartu reguler dan Rp250.000 untuk gold dan platinum. Jadi kalau dihitung-hitung, untuk pemegang kartu regular, karena nominal terbesar uang yang bisa ditabung adalah Rp999, atau katakanlah Rp1.000, maka Anda maksimal harus belanja sebanyak 100 kali dengan tiga digit terakhir uang pembelanjaan Rp999.

Untuk Anda yang memiliki kartu gold, lebih sedikit karena maksimal besaran rupiah yang bisa menjadi hak Anda adalah Rp9.999, atau katakanlah Rp10.000, maka banyaknya Anda belanja adalah 25 kali dengan empat digit terakhir sebesar Rp9.999.

Kalau Anda bisa mendapatkan angka belanja dengan komposisi angka seperti di atas, bagus karena uangnya benar-benar bisa menjadi tabungan. Apalagi tidak terdapat batasan nominal berbelanja. Kalau Anda bisa menggunakan debit card untuk pembelian Rp1.999 sebanyak 100 kali atau Rp19.999 sebanyak 25 kali maka Anda bisa untung.

Jangan Tergoda

Belanja sambil Menabung berarti dengan berbelanja Anda juga menabung. Maksudnya adalah menabung menjadi fasilitas tambahan yang Anda dapatkan bila Anda berbelanja. Sebagai perencana keuangan saya sarankan jangan menjadikan penawaran ini sebagai pembenaran untuk membelanjakan uang dengan tidak terkendali.

Ingat, menabung adalah menabung dan belanja adalah belanja. Bila Anda memang ingin menabung, sisihkanlah dana untuk hal itu, jangan mengandalkan hanya dari sisa digit pembelanjaan Anda.

Lebih baik bila Anda menyisihkan uang Anda untuk ditabung terlebih dahulu, dan kemudian baru membelanjakan sisanya untuk kebutuhan. Bila ada angka yang bisa ditabung dari pembelanjaan Anda, syukur. Tapi jangan menjadikan belanja sebagai alasan supaya bisa menabung.

Selamat berbelanja pintar.

Kesimpulan

Kelebihan

  • Program ini menggunakan kartu debit yang berarti Anda menggunakan uang sendiri untuk berbelanja
  • Tidak ada angka minimal perbelanjaan, bila Anda bisa menggunakan kartu debit Anda untuk berbelanja murah dengan tiga atau empat digit angka belakang yang maksimal, maka kita diuntungkan
  • Cukup banyak merchant yang bisa menerima (logo Maestro dan MasterCard)

Kekurangan

  • Ada saldo minimal sisa pembelanjaan yang harus ada di rekening yang cukup besar
  • Adanya nilai total maksimal yanng bisa ditabungkan kembali

Saran

  • Jangan menjadikan tawaran ini sebagai alasan agar Anda bisa menabung. Tetap sisihkan tabungan Anda di depan dan jadikan program ini sebagai bonus tabungan tambahan

Salam.
Eko Endarto
Perencana Keuangan

Iklan

Comments (3)

MEMISAHKAN KEUANGAN PRIBADI DAN USAHA

Oleh: Ahmad Gozali

(www.perencanakeuang an.com)

 

Dikutip dari Harian Republika, November 2007

Assalamualaikum wr wb

Pak Gozali Yth,

Nama saya Arief. Saya seorang pengusaha di bidang handycraft dan aksesori. Umur saya masih tergolong muda, 21 tahun, dan masih lajang. Saya punya beberapa masalah di bidang keuangan. Pertama, modal saya pas-pasan dan terlalu banyak pengeluaran.

Penghasilan saya dalam satu bulan kira-kira Rp 45 juta. Dan setelah dihitung-hitung, saya hanya bisa menabung Rp 15 juta dari penghasilan itu dikarenakan saya harus membayar para perajin, ditambah kebutuhan yang lain. Pak Gozali, tolong beri saya solusi, apakah saya harus menahan sebagian uang perajin untuk saya putar kembali dengan beberapa risiko atau saya mesti bagaimana? Terima kasih.

Arief, Bali

Jawaban: Waalaikumussalam wr wb,

Mas Arief, salut untuk Anda. Seorang pengusaha yang masih muda usia, tapi sudah cukup sukses ya. Wah, sepertinya ada satu hal yang harus Anda lakukan Mas Arief, yaitu memisahkan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha Anda. Karena kalau tidak dipisahkan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha Anda, akan sulit untuk bisa membenahi masalah keuangannya.

Misalnya saja, Anda katakan bahwa banyak pengeluaran yang harus dilakukan. Nah, ini maksudnya pengeluaran untuk usaha atau pengeluaran pribadi? Kalau pengeluaran usaha, tentunya wajar saja kalau banyak pengeluaran. Apalagi kalau digunakan untuk kepentingan pembayaran supplier, bahan baku, dan tenaga kerja.

Nah, berkaitan dengan pertanyaan Anda selanjutnya. Saya rasa akan kurang bijaksana kalau harus menahan pembayaran kepada para perajin. Karena secara etika bisnis Islami, kita diminta untuk membayar upah sesegera mungkin, bahkan sebelum keringat mereka kering. Dan secara bisnis, hal ini juga membuat perajin Anda menjadi kurang loyal atau kurang memerhatikan aspek kualitas karena bekerja dalam suasana yang kurang kondusif.

Tapi, kalau yang Anda maksud adalah banyaknya pengeluaran pribadi, maka Anda perlu mengevaluasi lagi daftar pengeluaran Anda. Mumpung masih bujangan dan belum banyak kebutuhan, sebetulnya upaya penghematan bisa lebih mudah dilakukan. Kalau Anda termasuk yang ‘susah menabung’ sendiri, coba ikut program menabung otomatis seperti dengan arisan, tabungan berjangka, asuransi investasi, atau unit link, sehingga Anda akan ‘dipaksa’ untuk menabung. Biasanya sih, karena memegang uang dalam jumlah besar (walaupun itu uang usaha) membuat kita menjadi lebih boros juga, makanya saya sangat sarankan untuk memisahkan antara uang usaha dan uang pribadi.

Kalaupun tidak investasi ke dalam produk keuangan, Anda bisa investasi ke dalam harta tetap seperti rumah, kios atau ruko. Dengan investasi pada rumah, apalagi di pulau Bali yang harganya cukup tinggi, Anda bisa investasi sekaligus bisa dijadikan sebagai tempat tinggal nantinya. Atau dengan memiliki kios atau ruko, bisa disewakan atau digunakan sebagai lokasi usaha Anda.

Begitu juga dengan tabungan. Kalau yang Anda maksud menabung Rp 15 juta per bulan itu adalah sisa hasil usaha alias keuntungan bersih, bisa dikatakan cukup besar bisa mengantongi sepertiga dari pendapatan kotor usaha. Tapi kalau Rp 15 juta atau sepertiga itu adalah selisih dari penghasilan dan pengeluaran pribadi, sepertinya masih cukup kecil. Karena biasanya, seorang bujangan itu bisa mengumpulkan sampai 40 persen bahkan lebih dari penghasilannya.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

Tinggalkan sebuah Komentar

INGIN BERINVESTASI SECARA SYARIAH


Oleh: Ahmad Gozali

(www.perencanakeuang an.com)

 

Dikutip dari Harian Republika, November 2007

Assalamualaikum wr wb

Pak Ahmad Gozali Yth,

Saya adalah karyawan swasta yang memiliki minat untuk investasi. Investasi yang sudah saya lakukan saat ini adalah bagi hasil langsung dengan rekan pengusaha, dan investasi di DINAR yaitu reksadana Danareksa Indeks Syariah.

Saya ingin memperlebar portofolio investasi, yaitu dengan membeli saham Jasa Marga dan Wijaya Karya yang rencananya IPO tahun depan. Dari artikel-artikel yang saya telaah, reksadana syariah mengelola saham-saham yang sesuai syariah. Namun, saya masih penasaran dengan tata cara pengelolaan syariah itu sendiri. Bila saya memiliki saham, tata cara seperti apakah yang syariah?

Untuk investasi langsung dengan rekan pengusaha, saya menginvestasi sekian rupiah, dan per bulan saya dijanjikan bagi hasil konstan selama enam bulan dan modal saya dikembalikan setelahnya. Bagi hasil yang saya dapat adalah penawaran dari peminjam modal, saya tidak menaikkan atau menurunkan tawaran. Apakah sudah sesuai syariah, karena saya telanjur berinvestasi. Apabila tidak sesuai syariah, apa yang seharusnya saya lakukan terhadap bagi hasil yang saya dapat? Terima kasih.

Prana M (Ipank)

Jawaban:

Waalaikumussalam wr wb,

Mas Ipank,

Rupanya Anda cukup berminat berinvestasi secara syariah. Bahkan, investasi Anda tergolong cukup agresif dengan masuk ke sektor usaha langsung, dan reksadana indeks saham.

Reksadana syariah memang diwajibkan untuk mengelola portofolio dananya secara syariah. Jika reksadana saham, maka tentunya hanya membeli saham yang tidak bertentangan dengan aturan syariah, dan mekanisme jual belinya pun dijalankan secara syariah. Begitu juga jika Mas Ipank ingin berinvestasi secara langsung dengan membeli saham. Maka ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, yaitu pemilihan saham yang sesuai syariah, dan kedua yaitu mekanisme jual-beli yang sesuai syariah.

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) , bekerja sama dengan Dewan Syariah Nasional (DSN) baru saja mengeluarkan daftar efek (saham dan obligasi) yang sesuai syariah. Anda bisa men-download- nya dari situs http://www.bapepam. go.id untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.

Intinya, saham yang dipilih adalah saham dari perusahaan yang tidak bertentangan dengan syariah dan memenuhi persyaratan lain sesuai dengan fatwa DSN. Yang kedua, yaitu mekanisme transaksinya. Transaksi yang dilarang dalam syariah di antaranya adalah transaksi yang dapat menimbulkan ketidakadilan, spekulasi, dan ketidakpastian. Misalnya dengan menjual saham kembali padahal belum sepenuhnya kita miliki, memberikan penawaran jual-beli yang palsu, sengaja ‘menggoreng’ harga, dan lain sebagainya. Memang ada pemikiran untuk menahan saham sampai batas waktu tertentu seperti yang Anda katakan, agar tidak terjadi unsur spekulasi.

Tapi yang namanya spekulasi itu kan niat, bukan tindakan, sehingga agak sulit dibatasi seperti itu. Kalaupun dibatasi, tidak jelas jangka waktu mana yang disebut spekulasi, dan mana yang tidak. Jadi, tidak ada masalah jual-beli saham dalam jangka pendek, selama jual-belinya sudah sah.

Mengenai investasi langsung yang Anda lakukan dengan rekan pengusaha, sebaiknya hindari keuntungan yang bersifat pasti. Karena yang namanya bisnis itu tidak pasti, jadi keuntungan yang diterima seharusnya mengikuti besar kecilnya keuntungan usahanya. Saran saya, ubah akad transaksinya. Kalau sekarang mendapat X rupiah dengan asumsi keuntungan/omzet usaha Y rupiah, maka ikuti proporsi itu terus. Jadi kalau omzet/keuntungannya naik, bagi hasilnya juga naik. Begitu juga sebaliknya, bagi hasil ikut turun kalau keuntungan/omzet usahanya turun.

Demikian penjelasan saya Pak, mudah-mudahan bisa membantu. Jangan sungkan menghubungi kami kembali untuk berdiskusi lebih lanjut.

 Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

Comments (1)

ASURANSI JIWA

Oleh: Ahmad Gozali

(www.perencanakeuang an.com)

 

Dikutip dari Harian Republika, November 2007

Assalamualaikum wr wb

Pak Gozali,
Saya pernah menghadiri presentasi Pak Gozali di perusahaan saya bekerja. Ada satu hal yang masih menjadi pemikiran saya, yaitu mengenai asuransi jiwa. Saat itu, Anda menyarankan untuk membeli asuransi jiwa yang jumlah pertanggungannya lebih dari 200 kali pengeluaran. Yang menjadi pertanyaan saya:

1. Dari mana angka > 200, apakah di ambil dari usia produktif (25 tahun) atau dari angka lainnya?

2. Kira-kira berapa dana yang harus disiapkan untuk membayar premi jika pengeluaran rutin saya Rp 10 juta per bulan?

3. Saat ini, saya telah diberi asuransi jiwa oleh perusahaan dengan premi 36 kali pengeluaran saya dan juga asuransi kesehatan. Mana yang lebih baik: asuransi dalam bentuk link atau term life?

Terimakasih atas perhatiannya,

Denny H

Jawaban:

Waalaikumussalam wr wb,

Uang pertanggungan (UP) untuk asuransi jiwa paling ideal memang 200 kali lipat dari nafkah kepada keluarga. Jika Anda (mohon maaf) meninggal dunia, maka keluarga Anda selama ini akan kehilangan nafkah sebesar Rp 10 juta per bulan. Asumsi yang paling pesimistis, keluarga Anda sama sekali tidak memiliki penghasilan sehingga hanya bisa mengandalkan deposito sebagai sumber penghasilan. Dengan asumsi bunga/bagi hasil deposito saat ini sebesar 0,5 persen per bulan. Maka untuk mendapatkan bunga/bagi hasil Rp 10 juta per bulan adalah dengan memiliki deposito sebesar Rp 2 Milyar (200 x 10 juta).

Angka 200x ini bisa dikurangi jika istri Anda juga bekerja dan memiliki penghasilan, atau anak-anak Anda sudah cukup besar untuk bekerja, atau keluarga yang Anda tinggalkan memiliki pengetahuan yang memadai untuk investasi selain deposito, atau jika Anda memiliki aset yang cukup besar. Namun, angka 200x ini juga bisa lebih besar lagi jika Anda memiliki hutang yang belum diasuransikan.

Dengan asumsi besarnya nafkah Rp 10 juta, dan faktor pengali 200x, maka UP yang ideal adalah Rp 2 milyar. Masih ada beberapa asumsi lain yang diperlukan untuk mengetahui besarnya premi yang harus dibayarkan yaitu usia dan merokok/tidak, dan yang terpenting lagi yaitu tarif perusahaan asuransi yang tentunya berbeda-beda. Gambaran kasar saja, preminya mungkin kira-kira Rp 6 – 10 juta per tahun. Sekali lagi, ini hanya gambaran kasar. Untuk lebih jelasnya silakan hubungi agen asuransi pilihan Anda.

Asuransi link adalah asuransi jiwa (bisa ditambah dengan kesehatan, penyakit kritis, dan lain-lain) plus investasi. Karena kesehatan sudah ada, dan investasi pun bisa dilakukan dengan sarana lain, sebetulnya Anda bisa memilih asuransi term life saja. Namun jika Anda merasa kesulitan untuk melakukan investasi sendiri dan merasa lebih praktis untuk sekali bayar untuk semua jenis asuransi, maka asuransi unit link memang cocok untuk Anda. Tapi jangan kaget kalau premi yang dibayarkan menjadi jauh lebih besar dibandingkan dengan perkiraan saya di atas. Karena perkiraan itu hanya untuk jiwa saja, sedangkan unit link sudah menggabungkan semua premi (termasuk investasi) menjadi sekali bayar. Demikian yang dapat saya sampaikan Pak, jangan sungkan menghubungi kami kembali untuk berdiskusi lebih lanjut.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

Tinggalkan sebuah Komentar

MEMILIH BANK KPR


Oleh: Ahmad Gozali

(www.perencanakeuan gan.com)

Dikutip dari Harian Republika, September 2007

Assalamualaikum wr wb

Pak Gozali,
Saya berencana membeli rumah dengan cara KPR. Harga rumah Rp 130 juta. Penghasilan saya dan suami masing-masing Rp 1.200.000. Jadi, total Rp 2.400.000.

Kami sudah menyiapkan dana untuk uang muka rumah, Rp 55 juta. Namun kami bingung memilih dan memakai bank yang tepat dengan asumsi bunga yang tidak terlalu mahal. Yang ingin kami tanyakan adalah:

  1. Apakah bunga KPR tiap tahun berubah, mengikuti perkembangan fluktuasi bunga bank di pasaran?
  2. Apakah ada bank yang memberikan bunga flat sampai dengan masa akhir akad kredit?
  3. Pengembang menyediakan KPR dari BNI dengan bunga 11 persen. Apakah sebaiknya saya mencari altenatif lain atau menuruti pengembang?

Mungkin Mas Gozali bisa membantu mengatasi kebingungan saya dengan menjelaskan lebih detail tentang KPR dan bunga bank ini mengingat dana kami sangat terbatas. Terima kasih. Zaitun

Jawaban:

Mbak Zaitun,
Alhamdulillah, satu lagi kebutuhan dasar Anda, yakni kepemilikan rumah akan segera terpenuhi. Untuk kebutuhan yang satu ini memang butuh perhitungan dan pertimbangan yang matang dalam menentukan KPR karena belakangan ini banyak sekali perbankan yang menawarkan berbagai macam KPR.

Ada satu hal yang perlu saya jelaskan terlebih dahulu mengenai besaran cicilan yang boleh Anda ambil. Besarnya cicilan utang dalam keuangan keluarga maksimal adalah sebesar 30 persen dari besarnya penghasilan bulanan. Jadi, untuk Anda berdua yang berpenghasilan Rp 2.400.000 maka besaran cicilannya adalah sebesar Rp 720 ribu. Ini sudah termasuk cicilan-cicilan lainnya bila memang ada.

Dalam dunia perbankan, memang minimal dikenal dua jenis sistem penentuan suku bunga pinjaman komersial, yaitu dengan sistem fixed (tetap) dan floating atau fluktuasi mengikuti keadaan pasar. Sebagai orang awam seperti kita, pasti sulit ya Mbak untuk menimbang-nimbang mana yang baik apalagi bila kita tidak mengetahui dengan pasti cara perhitungan bunga tersebut.

Baik, sekarang saya jawab pertanyaan Anda satu persatu:

  1. Keadaan pasar memang selalu naik turun setiap saat. Biasanya, bank mengevaluasi besarnya suku bunga setiap satu tahun sekali. Sehingga apabila Anda mengambil sistem fluktuatif, maka setiap tahun pembayaran cicilan Anda bisa berubah-ubah, bisa lebih besar atau ada kemungkinan lebih kecil dari tahun pertama pembayaran dimulai.
  2. Ada bank yang memberikan pembayaran fixed (tetap) sampai masa akhir dari akadnya. Terutama bank-bank berbasis syariah. Enaknya pembayaran fixed adalah kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan berapa kira-kira pembayaran cicilan tahun depannya. Kalau jangka waktu pembayarannya pendek memang sih lebih enak untuk mengambil fixed saja. Selain bank syariah, Anda bisa menggunakan Bank BTN, karena bank ini juga menerapkan suku bunga fixed walaupun relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bank lain.
  3. Yang jadi masalah bukan pada mengambil cicilan melalui bank yang disediakan pengembang atau bukan, tapi coba Anda mintakan perhitungan dari pihak bank tersebut dengan uang muka Rp 55 juta dan bunga 11 persen dan kesanggupan Anda membayar Rp 720 ribu setiap bulannya, memakan waktu berapa tahun penyelesaiannya? Lalu, Anda bandingkan dengan bank-bank lain yang ada di kota Anda yang juga memberikan KPR ini, mana yang jangka waktu pembayarannya lebih singkat dan juga sesuai dengan kemampuan Anda dalam membayarnya.

Mana yang lebih baik, ambil sistem fixed atau fluktuatif? Kalau diperkirakan suku bunga akan turun selama jangka waktu kredit, memang lebih baik ambil yang fluktuatif. Karena tentunya cicilannya bisa lebih kecil di masa depan. Hal ini agak sulit diprediksi dalam jangka panjang karena ada banyak sekali faktor yang memengaruhinya. Tapi kalau Anda ingin ketenangan dan kepastian dalam mencicil, akan lebih baik ambil KPR dengan sistem fixed saja, sehingga tidak perlu khawatir cicilannya membengkak di tengah jalan. Semoga penjelasan saya bermanfaat.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

Tinggalkan sebuah Komentar

MODAL UNTUK USAHA WARNET

Oleh: Ahmad Gozali

(www.perencanakeuan gan.com)

Dikutip dari Harian Republika, Juni 2007

Assalamualaikum wr wb

Pak Gozali,
Saya karyawati di salah satu perusahaan provider CDMA. Tapi saya ingin punya usaha sampingan. Insya Allah, saya ingin buka usaha warnet bersama teman saya. Teman saya sudah punya usaha warnet sebelumnya dan sepertinya berhasil. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Menurut Bapak, kira-kira berapa sih modal yang harus saya keluarkan untuk usaha ini? Kata teman saya sekitar Rp 50 juta (@ Rp 25 juta). Apakah modal sejumlah itu wajar?
  2. Saya sudah membaca buku berjudul: Buka Usaha Nggak Kaya? Percuma … Di situ tertulis, jika ingin memulai usaha baru sebaiknya jangan langsung dengan modal besar. Menurut Bapak, modal Rp 25 juta masuk kategori kecil, sedang, atau besar?

Terima kasih atas penjelasan Bapak.

Luna

Jawaban:

Mbak Luna,
Hebat sekali Anda memiliki keinginan untuk menambah penghasilan dengan jalan membuka usaha. Iya juga sih, salah satu cara menambah penghasilan adalah dengan memanfaatkan sisa waktu setelah seharian Anda bekerja. Namun, sebaiknya Anda juga ikut ambil bagian dalam hal pengontrolan usaha warnet ini apabila sudah berjalan nanti.

Besar kecilnya modal tergantung dari bagaimana Anda memandangnya. Bisa jadi Rp 25 juta adalah modal yang besar dan bisa juga Rp 25 juta dikatakan modal yang kecil. Semuanya tergantung kebutuhan dari usaha yang akan dijalankan tersebut. Nah, agar tahu berapa besarnya modal usaha yang diperlukan, ada baiknya Anda membuat perhitungan kasar terlebih dahulu.

Modal usaha itu terbagi dua, modal awal dan modal operasional. Modal awal adalah sejumlah uang yang dikeluarkan pada kali pertama usaha tersebut dijalankan. Adapun modal awal ini dipergunakan untuk membeli alat-alat utama dan pendukung dalam usaha tersebut. Contohnya, satu set komputer PC (banyaknya PC tergantung dari kebutuhan, makin ramai lokasinya maka PC yang dibutuhkan makin banyak), meja dan bangku untuk tempat duduk, AC, etalase, dan lain-lain. Intinya, modal awal ini hanya sekali saja dikeluarkan di saat memulai usaha.

Modal operasional adalah sejumlah dana yang disiapkan untuk kepentingan operasional usaha warnet Anda, baik untuk maintenance peralatan, bayar listrik, air, menggaji karyawan, juga sewa tempat apabila bulanan (kalau tahunan masukkan ke modal awal saja). Untuk modal operasional ini lebih baik Anda siapkan sebanyak minimal enam bulan. Jadi, apabila dibutuhkan Rp 2 juta sebulan untuk operasional, maka Anda perlu menyiapkan minimal sebesar 12 juta untuk enam bulan ke depan.

Jadi Mbak, sebaiknya Anda benar-benar mendalami usaha warnet ini secara mendetail meskipun teman Anda sudah berkecimpung di usaha ini sebelumnya. Untuk mempelajarinya, Anda dapat membaca buku mengenai usaha warnet, browsing internet, maupun bertanya langsung kepada teman Anda secara lebih detail. Walau telah percaya kepada teman Anda, tidak ada salahnya apabila ada perjanjian di awal atas segala hal yang menyangkut usaha tersebut. Demikian, selamat berwirausaha.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

Comments (5)

BERKELIT DARI RISIKO DENGAN ASURANSI

Oleh: Safir Senduk

(www.perencanakeuang an.com)

 

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 1028/XVIII

Salah satu konsekuensi dari pekerjaan saya sehari-hari adalah diminta memberikan seminar tentang perencanaan keuangan, di Jakarta maupun luar Jakarta. Dalam proses di perjalanan menuju tempat seminar, baik lewat darat maupun lewat udara, saya seringkali berpikir bahwa kadang-kadang kematian bisa sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Suatu hari, misalnya, saya harus memberikan seminar di Kolaka, tepatnya 3 jam jalan darat sebelah barat Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Nah, untuk mencapai Kendari, saya harus naik pesawat dari Jakarta menuju Makassar yang lama perjalanannya sekitar 2 jam, kemudian dari situ saya harus berganti pesawat dan terbang lagi selama 1 jam ke timur, barulah saya akan mendarat di Kendari.

Semuanya lancar-lancar saja, sampai 8 hari kemudian saya mendapat kabar bahwa pesawat yang sama seperti yang mengangkut saya, dengan jalur Makassar – Kendari, tergelincir di landas pacu bandara di Makassar karena pecah ban. Dan peristiwa itu terjadi pada hari minggu, hari yang sama seperti penerbangan saya seminggu sebelumnya.

Di Jakarta misalnya, kalau kita menyempatkan diri naik angkutan umum, bukan satu dua kali saya menemukan banyaknya pengemudi angkutan umum yang menyetir gila-gilaan sehingga membahayakan penumpang maupun pengendara lain.

Dari pemaparan tersebut tergambar, yang namanya risiko ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Risiko apa? Wah, macam-macam. Di atas tadi adalah risiko-risiko yang bisa mengancam jiwa kita. Tapi selain itu, ada juga sih risiko yang bisa mengancam kesehatan kita, seperti sakit. Sakit itu menyebalkan, bukan? Mau kerja tidak bisa, tapi senang-senang juga tak bisa. Belum lagi kalau gara-gara sakit itu kita mesti bayar dokter, obat, bahkan rumah sakit.

Jadi, risiko itu sangat dekat dengan hidup kita sehari-hari. Ada 5 jenis risiko yang paling sering terjadi:

1. Kematian

2. Kecelakaan

3. Sakit

4. Musibah pada Properti (Rumah dan Kendaraan),

5. PHK (kalau Anda karyawan), dan Kebangkrutan (kalau Anda pengusaha)

Profesi ibu rumah tangga pun tak luput dari risiko, lho. Sepanjang Anda masih disebut ‘manusia’, Anda tetap punya kemungkinan mengalami risiko-risiko tadi. Bahkan jangan lupa, kalaupun Anda seorang ibu rumah tangga, tapi toh di sini seringkali suami Andalah yang memberi nafkah di keluarga kan? Sekarang bayangkan, apa yang terjadi kalau terjadi apa-apa pada suami Anda? Kalau Anda sakit misalnya, maka tugas sebagai ibu rumah tangga yang biasa Anda lakoni mungkin akan terbengkalai. Tapi kalau suami yang mengalami sakit, itu berarti dia bakal tidak masuk kerja. Di beberapa kantor, kalau tidak masuk kerja lebih dari sekian hari, bisa-bisa dipotong gajinya.

Jadi jangan merasa bahwa risiko-risiko di atas tadi tidak akan terjadi pada Anda. Anda bisa tetap mengalami risiko itu, tapi suami Anda mungkin akan lebih besar lagi kemungkinannya.

Pentingnya Proteksi

Banyak diantara kita yang tidak suka risiko. Tapi masalahnya, risiko mengintai tanpa kita minta. Setiap kali Anda bepergian, misalnya, pasti ada saja risiko kecelakaan yang mengancam. Setiap saat umur Anda pun bisa dipanggil Tuhan, bahkan dalam tidur sekalipun. Bahkan rumah Anda pun juga bisa kebakaran. Jadi mesti tak suka, kita selalu hidup berdampingan dengan risiko.

Nah, di sinilah perlunya proteksi. Maksudnya, apapun yang Anda lakukan, Anda harus selalu punya proteksi. Arti proteksi adalah bahwa kalau terjadi risiko pada Anda, Anda atau keluarga Anda sudah siap untuk membayar konsekuensinya yang biasanya membutuhkan uang.

Contohnya, jika Anda meninggal, maka pasangan Anda akan mendapatkan penggantian uang yang bisa digunakan oleh keluarga Anda untuk membayari kebutuhan pemakaman dan hidup keluarga Anda ke depan. Itulah proteksi. Jadi, jika Anda meninggal, maka Anda enggak akan menyusahkan orang.

Nah, salah satu proteksi yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengambil asuransi. Prinsip asuransi sebenarnya sederhana, dimana Anda mengikat janji/kontrak dengan pihak ketiga (dalam hal ini perusahaan asuransi), dimana di kontrak itu tertulis bahwa kalau Anda mengalami risiko – yang disebutkan di dalam kontrak itu – maka Anda akan mendapatkan uang penggantian yang sering disebut dengan nama Uang Pertanggungan.

Untuk bisa membuat kontrak itu berjalan, Anda harus membayar sejumlah iuran tertentu yang disebut premi, dimana ujung-ujungnya, kalau terjadi musibah, maka premi yang Anda bayarkan akan jauh lebih murah dibanding ganti rugi yang Anda dapatkan.

Ada 3 asuransi yang sebaiknya Anda ambil:

1. Asuransi Jiwa, yang siap memberikan penggantian kalau terjadi risiko kematian pada Anda.

2. Asuransi Kesehatan, yang bakal memberikan penggantian kalau terjadi risiko sakit pada Anda dan Anda harus dirawat inap atau rawat jalan.

3. Asuransi Kerugian, yang akan memberikan penggantian kalau terjadi musibah pada barang-barang milik Anda seperti kebakaran pada rumah atau kecelakaan pada mobil/motor Anda.

Jadi, mau nunggu apa lagi? Segera hitung ulang keadaan keuangan Anda saat ini, dan coba pertimbangkan untuk ambil asuransi. Jangan sampai terjadi risiko dulu, baru menyesalnya belakangan. Amit-amit deh.

Salam.

Safir Senduk

Perencana Keuangan

Tinggalkan sebuah Komentar

Older Posts »